Sunday, September 27, 2015

Ikhtiar Hamil

"Mbak hamil ya mbak, sini duduk mbak," pintanya kepadaku yang memang sedang berdiri di gerbong wanita commuter line.

"Nggak mbak, aku nggak hamil." Jawabku singkat. Tapi tak jarang beberapa yang mengira aku hamil tetap mempersilakan aku duduk menggantikannya. Ya sudahlah, rezeki, alhamdulillah. He he he

Entah sudah berapa banyak wanita yang berkata demikian kepadaku. Semuanya mengira aku adalah ibu hamil yang harus diprioritaskan. Aku tentu sangat maklum, sejak menikah hampir 3 tahun silam berat badanku naik 10 kg dari sebelumnya 58 kg. Mungkin gara-gara ini aku jadi terlihat lebar dan endut seperti bumil, ibu hamil.

Disatu sisi, aku tetap bersyukur, meski badanku naik dari kelas bulu jadi kelas walter kalau di dunia tinju, hahaha..Ini kan artinya, Allah masih mencukupi makan dan minumku. Namun disisi lain, aku tak dapat menutupi perasaanku atas banyaknya pertanyaan seputar hamil, hamil dan hamil.

Ya, jangan tanya, aku juga pasti bersedih. Namanya juga wanita, yang kebanyakan perasaannya lebih dominan dibandingkan logikanya. Namun demikian, prasangka baik mereka kalau aku hamil, pertanyaan mereka, aku anggap saja sebagai doa. Ya Allah kabulkanlah permohonan kami. Amin.

Tentu, aku dan sumami pasti merindukan kehadiran si buah hati. Namun demikian, disinilah, kami semakin sadar, kami adalah hamba yang lemah dan Allah-lah Sang Pencipta, Allah-lah Sang Produser, Sang Penulis skenario kehidupan.

Kami hanya bisa berusaha. Berbagai upaya medis juga sudah coba kami jalani, mulai dari dokter sampai alternatif. Beragam asupan mulai dari obat hormon hingga herbal juga sudah pernah dicoba. Aku juga sudah lama resign dari pekerjaanku, supaya lebih santai dan tidak stres, barangkali aku jadi bisa hamil. Tetapi kembali lagi, ya inilah takdir. Secanggih apapun teknologi, seterkenal apapun dokter yang menangani, sehebat apapun tabib alternatif. La haula wa la quwwata illa billah, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

Selain bercerita dalam doa kepada Yang Maha Kuasa. Sudah sejak awal tahun 2014 aku juga bercerita, berbagi kisah melalui blog ini. Aku tulis di colour note ponsel pintarku yang sudah seperti smartfren bagiku, aku upload di aplikasi bloggerku. Aku ingin seperti Emak Gaoel yang punya teman bercerita, karena aku yakin aku bukanlah wanita pertama yang juga menjalani ikhtiar hamil sepertiku. Aku hanya ingin menulis dan berbagi bersama mereka. Ya mereka, mereka yang berikhtiar hamil, sama sepertiku.

Alhamdulillah aku syukuri hingga sekarang, total tayangan lamannya melebihi ekspektasi. Sebagai bandingan, blog pertamaku yang sudah ada sejak tahun 2009, hitsnya baru 5000-an. Sementara blog ini sudah dibaca hampir 12 ribuan hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun, itupun aku jarang mempromosikannya. Yang juga menggembirakan, setiap mengetik "Dokter Spesialis Infertilitas Depok", mesin pencarian Google sudah mengenalnya. Ah tapi, keterkenalan bukan itu niatanku.

Semoga Tuhan selalu meluruskan niat utamaku untuk terus menulis di blog ini dan berbagi kebahagiaan meski aku dan para pembacanya belum juga dikaruniai si buah hati. Go for it.
Go For It Blog Competition

Monday, September 14, 2015

Mencari Second Opinion

Bismillah

Karena merasa stuck dengan solusi yang ditawarkan dokter DIP untuk laparoscopy, akhirnya saya terpikir untuk meminta opini dari dokter kandungan lain. Ga tanggung-tanggung ada 3 dokter yang saya datangi untuk berkonsultasi..

1. Dr. Lisdayanti, Sp.OG
Dokter yang saya pilih yaitu dr. Lisdayanti dari RS Mitra Keluarga. Latar belakang berkonsultasi ke dr. Lisda adalah sewaktu awal menikah, saya sempat mengikuti seminar infertilitas dan beliau adalah salah satu pembicaranya. Saya pergi ke dr. Lisda sebelum dr. DIP kasih solusi laparoskopi. Jadi karena kebetulan lagi pulang kampung, saya menyempatkan diri untuk berkonsultasi dengan dr.Lisda yang memang ahli infertilitas.

Antrian di dr. Lisda lumayan singkat. Mungkin karena bukan weekend juga sih. Dimulailah sesi konsultasi.. saya kasih buku record dari Bunda.. terus dia bilang, "Bagus dong kalau udah di Bunda. Kan mereka ada klinik bayi tabung juga." Setelah itu kembali periksa USG TransV. Dan dia menemukan itu endo..dan ternyata membesar menjadi 1.7cm dari sebelumny 1.3cm :( di akhir sesi, dia bilang agar melanjutkan pengobatan dengan dr. DIP aja..dia sendiri ga ngasih resep. Oke deh qaqa..

2. dr. Lisnur Saptowati , Sp.OG
Dokter Lisnur adalah dokter yang femes di antara circle pertemanan saya. Beliau juga merupakan dokter yang menangani kakak saya. Selain itu, saat masih gadis saya juga pernah berkonsultasi dgn beliau untuk periksa, kenapa pas mens nyeri parah (sekarang baru ketauan ya karena ada endometriosis -.- dulu mah pas di usg ga kliatan..tapi ya dulu kn emang bukan USG transvaginal. Yakali masih gadis pake usg transV)

Sempet drama nih sebelum konsultasi ke dr Lisnur..jadi kan saya pengen nyoba pake BPJS biar gratisan. Eh ternyata pas udah repot2 ngurus..udah jadi kartu..ternyata endometriosis nggak termasuk penyakit yang dicover bpjs. Heuu.. yasudlah..

Lanjut ke bagian pemeriksaan.. jadi kali ini saya pake usg biasa..apa sih namanya..ingetnya sih USG abdomen abdomen gitu..Trus dr. Lisnur bilang kalo perut saya penuh dengan cairan...err apa ya lupa. Yang jelas itu cairan makanin sel sel telur saya. Setelah, beliau meresepkan saya Azol. Yaitu obat hormon sintetis. Lumayan harganya 500rb. Sebenernya saya juga disuruh suntik Tapros dan Endrolin 3 kali. Tapi saya keburu harus balik jakarta ya udin.. dr Lisnur bilang injeksi ini worth of 1jt. :o


3. dr. Nelwati, Sp OG
dr. Nelwati berpraktek di 2 rumah sakit. Yang saya datangi yaitu Rumah bersalin Depok Jaya. Tempat lain yang menjadi tempat prakteknya yaitu RS Hermina Depok. Pertama datang ke dr. Nel (begitu beliau akrab dipanggil) beliau bilang kalau harus segera ke RS. Hermina. 

Memang sih waktu saya masuk, waktu menunjukkan pukul 12.. Fyi, beliau praktek di RB Depok Jaya setiap Kamis jam 9-12 siang dan Sabtu jam 18-23. Pendaftaran minimal h-1 via telpon. Maks pasien per hari 20.  Terus beliau juga bilang..idealnya di satu sesi praktek yang promil 2 aja. Biar ga kelamaan. Wahduh.. trus gimana dong :( 


Lobby RB Depok Jaya

Singkatnya..akhirnya saya diperiksa setelah terlebih dahulu nyeritain record pemeriksaan sebelumnya. Terus, seperti dr. Lisda, beliau mempertanyakan, kan RS Bunda udah yang paling bagus. Ngapain pake ke sini.. malah katanya Hermina ga ada program bayi tabung. Terus juga, beliau mengamini saran dr. Dip untuk melakukan laparoskopi. Tujuannya adalah untuk melihat secara rinci, sekaligus membersihkan "benda-benda" yang disinyalir menghambat kehamilan. Terus di akhir konsultasi saya nggak mau dikasih resep apa2. Bukan, bukan karena saya ngambek. Tapi karena pernyataan beliau juga, "Saya lihat Ibu orangnya bingungan, buktinya ganti2 dokter. Saya sarankan dokternya satu aja, terus dijalanin. "

Meeh...

Iya gue tau gue orangnya bingungan heuu.. tapi menurut gue, ga salah kan meminta second opinion? Cuma memang di sisi lain, too much information will kill you. Namanya juga usaha ya, sis? Tapi however, gue sampe sekarang belom berminat buat konsultasi dokter lagi sih.
Apakah semua ini jatohnya cuma mengulur ulur waktu sampe akhirnya gue laparoskopi beneran? Entahlah. Coba browsing biaya LO konon mihil bangat..



Ih terakhirnya lemes amat, Jeung. Semangat dong semangat!!


Thursday, September 3, 2015

Tidak Ada Alasan untuk Berburuk Sangka :)

Jangan pernah karena kita terlalu memikirkan ini, kita jadi terpuruk, Banyak dosa lah, dll,,
Tak ada yang tahu penyebab kita belum hamil. Memang bencana yang kita dapatkan sekarang merupakan hasil dari dosa masa lalu. Namun, apakah tidak memiliki anak termasuk bencana? kan tidak,,,


Saya menemui banyak pasangan yang belum punya anak, dan usia pernikahan mereka lebih lama dari saya, bahkan ada yang hingga 20 tahun. Dari mereka saya diajarkan arti syukur. Dibanding mereka, saya belum ada apa-apanya karena baru setahun menikah. Orang-orang, kebanyakan dari mereka ahli, menyarankan agar pasangan yang belum dikaruniai anak memeriksakan diri mereka setelah setahun menikah. Namun ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa jika 3 bulan menikah belum ada tanda2 kehamilan, segeralah periksa, karena tiga bulan pun cukup menggambarkan bahwa ada yang 'salah di tubuh kita'...

Wednesday, September 2, 2015

Mencoba Akupunktur agar Hamil

Assalamu'alaikum wr wb

Rada syok lihat terakhir ngepost ternyata akhir tahun kemarin.. Lebih syok lagi pas hitsnya 10ribuan lebih. Ngalah2in blog saya yang satunya. Haha..

Udah 8 bulan aja ya berlalu..Alhamdulillah keadaan sekarang belom (soon insya Alloh) hamil tapi berat badan terus membengkak. Err.. sebel deh..gendut tapi ga lagi hamil.. punya foto USG tapi isinya bukan embrio.. tapi bagaimanapun..semua keadaan harus disyukuri kan? Dan emang banyakk banget kesenangan2 yang saya dapet... Lagian belom hamil bukan musibah kan.. bisa sia sia idup kita kalo habis pikiran cuma gara2 ini (ngomong di kaca)

Walaupun begitu, alasan program hamil jualah yang menjadi sebab saya resign. Haha..padahal barusan bilang kalo jangan nyapek-nyapekin pikiran dengan hal ini. Tapi ya jujur aja..cuma alesan itu yang sepertinya paling bisa diterima oleh atasan sehingga mengijinkan saya untuk berhenti kerja. Yaa...itu juga jadi salah satu penyebab sih..tapi sebenernya keputusan saya ambil karena akumulasi berbagai macam hal yang kurang etis kalau sampai diketahui atasan dan
orang-orang lain. (Yeah call me naïve)

Sampai pada akhirnya.. here I am..jadi seorang stay at home wife (and mom to be..AAMIIINN yang kenceng) semi semi pengangguran semi semi wiraswasta. Kalo jadi istri full di rumah tentu aja bisa bebas mengatur waktu. Nah.. jadi saya dan suami memutuskan untuk mengikuti saran dari mertua untuk terapi akupunktur. Saran ini beliau dapatkan dari temannya yang anaknya juga (awalnya) tak kunjung memiliki anak.

Nah..akupunktur ini dilakukan weekday aja..jadi cocok sama jadwal sayah. (Padahal emang gada jadwal *sigh*). Kalau ada teman-teman yang tau Islamic Healing Center (IHC) di Depok..itulah tempat yang saya tuju. Dan terapis yang direkomendasikan teman mertua itu bernama Ibu Eko.

Ibu Eko ini praktek di IHC Depok pada hari Selasa dan Jumat, dan di As Syifa Bogor hari Senin dan Rabu. Kamis dan Sabtu dia praktek di rumah.

Saya bergantian antara ambil pket akupunktur dan bekam dengan beliau. Akupunktur seminggu sekali, sementara bekam sebulan sekali. Catatan: selama haid ga boleh akupunktur dan bekam. Di screening awal, sambil merasakan denyut nadi saya beliau bilang kalau saya perlu menghindari kolesterol-kolesterol. Dari mulai seafood, gegorengan, mie, santan2, ayam potong plus telor ayam potong juga. Hal ini bertujuan agar endometriosis saya cepat hilang. Kenapa bisa begitu? Karena untuk tubuh yang sehat, peredaran darah harus lancar, 'pembuangan' juga harus lancar. Nah, kalo makan yang mengandung kolestrol bikin peredaran darah lambat.. di samping itu saya juga harus makan buah banyak dan air putih banyak.. itu lagi, biar ke belakang lancar (note: saya sebelumnya sudah BAB sekali setiap hari loh tapi menurut beliau itu ga cukup. Sehari paling nggak harus dua kali bab) dan racun- racun dalam tubuhpun bisa cepet keluar.

Bicara soal proses akupunktur.. hmm.. sakit sih emang.

Gini..kalau kita suka denger review orang2 di tv dan mendapatkan kesan akupunktur atau terapi tusuk jarum ini santai banget.. eh di saya engga. Saya ngerasa sakit pas ditusuknya. Tapi abis itu udah engga sih.

Kata bu Eko akupunktur emang bertahap. Jadi kalau di awal awal saya 'cuma' ditusuk di tangan, perut, kaki dan kepala.

Di pertemuan-pertemuan selanjutnya, jumlah tusukan itu pun bertambah saudara2 T.T tusukannya merambah ke bagian punggung juga :( .jadi yang biasanya abis timernya nyala trus aku lega..eh sekarang harus balik badan dan punggung juga kena giliran. Dan ga selesai sampe di situ..nggak cuma ditambah tusukannya, intensitasnya juga ditambah. Ga cuma ditusuk..tapi juga DIUNYEK UNYEK. Subhanallah nikmatnya. UDAH PENGEN NANGIS.

Saya hampir tiap minggu ke sana..mungkin hampir selama 3 bulan.. sampai akhirnya saya disarankan oleh suami pergi ke tabib langganannya di kantor.

Singkat cerita, saya bertemu tabib itu dan dia merasa optimis saya bisa hamil. Katanya, endo saya nggak ganggu, rahim saya bagus, sel telur saya bagus.. cuma kekebalan tubuh saya yang terlalu tinggi katanya. Dia bilang saya sempet hamil tapi ga jadi.. terus saya disuruh banyak makan jamur biar hormonnya stabil katanya.

Terus saya cerita juga sama dia kalo saya akupunktur..trus dia bilang kalo sebenernya akupunktur nggak ngaruh ngaruh banget buat program hamil. Lah katanya kalo titik titik akupunktur yang ditusukin sama terapis akupunktur itu relatednya ke lambung.

Akhirnya dengan alasan ini saya berhenti akupunktur. Hahaha.. nyari2 alesan banget ya.

Tapi gimana yaa...emang sakit. Katanya itu karena tubuh saya yang emg lagi sakit. Misal nih, di bagian pungung kanan bawah sakit..itu karena hati saya bekerja terlalu keras. Kenapa hati bekerja terlalu keras? Hati menetralkan racun. Racun datang karena saya masih bandel makan gorengan.

Kasus lain, pas lagi ditusuk rasanya kesetrum karena bagian yang tersumbat tiba2 terbuka karen tusukan ituh. Ibu terapisnya berkali kali bilang kalo lebih sakit melahirkan. Tapi ya kok gini amet sih ditusuknya.. kalo bagian pas bekamnya sih okay. (Just okay)

Tapi apa mungkin ya emang karena pada dasarnya saya nggak suka badan saya dimacem2in. Maksudnya, kalo cewek.lain kayakny enjoy banget ngabisin waktu di salon, spa. Eh saya facial bentar aja ga betah. Dikrimbat aja ga betah. Dipijit kegelian. Dilulur bawaannya berdoa mulu semoga mbak2pemijitnya ga lesbian. Hahaha parno abis

Jadi treatment apapun jadinya bikin saya ga nyaman. Yang bikin lebih ga nyaman lagi itu pas terapisnya baru dateng pas dhuhur2. Sementara pasien dia antri. Apalagi sistem di kliniknya pake antrian dateng. Jadinya serba salah. Kalo dateng pagi bangt, dapet antrian pertama sih tapi nunggu terapisnya lama banget. Dateng siangan..eh pasiennya udah bejibun. Mana tempatnya jauh :(

Hal hal itulah yang akhirnya bikin saya kapok berat akupunktur..

Sekian




Tuesday, December 23, 2014

Recent Update

Heihoo

Sudah lama tidak menengok blog ini..tau-tau udah ribuan aja total pageview-nya... Alhamdulillah.
Kenapa bisa nganggur begitu lama? well, karena alasan saya menulis untuk menyemangati diri sendiri agar bisa menyemangati orang lain juga. Jadi otomatis saya menulis saat saya merasa sedang down. Jadi kalo nggak nulis lama? Alhamdulillah berarti saya sedang baik-baik saja..hehehe

Nah.. saya mulai menulis lagi juga karena sedang merasa galau lagi. Sumber kegalauan tersebut berangkat dari kakak ipar saya yang mengumumkan kehamilannya yang kedua..

Seharusnya saya patut merasa gembira atas berita gembira tersebut. Namun apa mau dikata..saya tidak bisa membohongi perasaan saya. Sebenarnya belum bisa dipastikan sih kehamilannya.. namun saat bertemu dengannya kemarin..dia bilang mual seperti orang ngidam dan juga bilang kalau haidnya sudah terlambat. Mertua yang juga hadir bilang, "Gapapa (punya anak lagi), untuk temen si anak pertama"

Saya nggak tau gimana bentuk wajah saya saat itu. Tidak bisa dipungkiri perasaan saya berubah. Saya bilang ke suami. "Ya udah gapapa lah, kok kamu kaya gitu sih," katanya. Yah..namanya juga lelaki yah. Mereka kadang-kadang tidak bisa memahami dan menanggapi secara tepat curhatan saya. Tapi kalau dipikir-pikir..kalo suami menanggapi dengan mellow juga..bisa-bisa saya jadi nangis bombay heboh kali ya..hehehe.

Anyway...
Wajar gak sih merasa iri terhadap kabar teman/saudara yang hamil?  Jujur saya belakangan terakhir merasa sudah sangaat ikhlas dengan keadaan ini. Sudah gak setimentil lagi. Merasa biasa-biasa saja. Ada berita teman yang baru menikah-langsung hamil pun saya hanya sedetik dua detik merasa "Jleb". Di bawa santai aja. Kalaupun ada yang terus menerus menyebut-nyebut tentang kehamilannya saya dengan santai unfriend (karena saya takut jadi kufur nikmat) Gitu aja.

Tapi kali ini beda, sis..
Karena itu kakak ipar saya sendiri. Istri dari saudara kandung suami. Saat terberat saat menjadi wanita yang belum berhasil hamil adalah ketika berada di lingkungan keluarga suami. Walaupun mertua saya tidak pernah menayakan tentang kehamilan, namun saya merasa tetap ada tekanan batin.

Apa yang salah ya? padahal kakak ipar kan bukan saingan.

Ya Alloh. Maafkan hamba yang pendengki ini ya Alloh. Hamba tau Engkau yang mengatur segala sesuatu. Semua ini sudah menjadi skenario besarNya. Tolong yakinkan hamba bahwa segala sesuatunya terjadi akan baik-baik saja dan indah pada waktunya. Bantu hamba merasa ridho atas segala ketentuan-Mu ya Alloh.

Saya sedang belajar untuk ikhlas. Mohon bantu hamba untuk menjadi manusia yang ikhlas dengan ketetapanMu ya Alloh..

Semoga ini hanya kegalauan karena saya sedang haid saja. Yah emosi saat haid sedikit banyak berpengaruh dalam kestabilan.. karena di sisi lain saya juga tidak bisa beribadah sholat. Otomatis jarak dengan Tuhan pun berkurang.

Oke, sekarang kita mending mengalihkan topik ke progress program hamil. Kalau kemarin apdetan terakhir ikut tes HSG, maka setelah itu saya mengikuti tes hormon dan tes analisa sperma. Tes hormon sih Alhamdulillah lancar dan baik-baik saja. Saya waktu itu diperiksa hormon progesteron dan hormon prolaktin .

 
hasil tes hormon
harga tes hormon prolaktin dan progresteron di Bunda Depok
Kemudian saat tes analisa sperma, Alhamdulillah suami baik-baik aja dari segi kualitas maupun kuantitas. Jadi apa dong kesimpulannya? apa penyebab utamanya?

Jadi saat pulang kampung ke kampung halaman, saya berusaha mencari second opinion dengan ahli fertilitas di kota saya. Jawaban dari dokter tersebut masih sama. Saya mengidap kista endometriosis sebesar 1,7 cm (bertambah 0,3 diameternya T.T) Selebihnya saya disuruh untuk mengikuti anjuran dokter di Bunda Margonda. Karena memang di situ spesialis masalah infertilitas.

Akhirnya pada suatu kesempatan (meliburkan diri dari kerja-jangan dicontoh) saya kembali ke dokter DIP. Dia menyuruh saya untuk menjalani laparoscopy untuk menyingkirkan endometriosisnya.  Sebenarnya dokter DIP tidak dapat memastikan bahwa endometriosis ini merupakan penyebab utama infertilitas yang kami alami. Namun pada beberapa studi, endometriosis ditengarai menjadi penyebab infertilitas terutama disebabkan karena menghalangi jalannya sel telur dari ovarium ke rahim. Karena sedikit demi sedikit juga endometriosis akan bertambah besar.. (seperti kemarin diameter endometriosis saya 1,3 cm kini menjadi 1,7cm, heuu)

...
...
...
...

Bingung lah saya.. apalagi efek jangka panjang endometriosis ini nggak enak banget..bisa terjadi perlengketan di sekitar tuba falopii. Tapi laparoscopy ini mahal banget bo.. dokter saya aja bilang biayanya sekitar 40juta. Berdasarkan info yang saya cari di internet.. ada cara lain yang bisa dilakukan yaitu inseminasi/ Intrauterine Insemination (IUI).  Inseminasi ini meletakkan sel sperma langsung ke sel telur. biayanya 5juta di Bunda katanya. (katanya.. tapi berdasarkan browsing-browsing konon sampai 10juta) Kata dr. DIP, boleh lah nyoba inseminasi dulu.. baru kalau gagal dilaparoskopi. Dan itu menjadi kesimpulan terakhir dari program hamil kami..

Pulangnya, saya dan suami berdiskusi masalah ini. Suami bilang kalau inseminasi kayaknya masih terlalu dini bagi kami yang baru berusia sekitar seperempat abad dan 2 tahun pernikahan. Di sisi lain anggaran rumah tangga kami saat ini difokuskan untuk membeli rumah. Akhirnya kami berkesimpulan untuk menghentikan sementara program hamil ini. Doker DIP juga bilang ke kami sebelumnya, kami boleh santai-santai dan istirahat sejenak dari program ini. Namun jangan sampai benar-benar melupakannya. Karena pada kasus-kasus sebelumnya, pasangan-pasangan terlalu santai sehingga mereka tidak lagi dalam usia produktif reproduksi (35 tahun) dan malah bisa juga terjadi masalah reproduksi yang bertambah banyak.

Begitulah. Kami sementara beristirahat dari promil untuk mengurusi promah (program rumah). Namun jangan salah..kami hanya berhenti dari ikhtiar fisik..tidak untuk ikhtiar doa. Selama beristirahat ini kami juga sembari mencari-cari jalan keluar lain. Plan kami selanjutnya sih menyambangi sinshe. Kali ini suami yang paling semangat karena dia juga langganan berobat ke sinshe. Kami mendapat rekomendasi dari penjual (calon) rumah yang akan kami beli. Tolong bantu doakan juga ya pembaca agar proses pembelian rumah saya lancar...

Begitulan quick update dari sayaa.. semoga bermanfaat dan menginspirasi yah..
Keep fighting, keep trying, keep du'aing!!













Monday, May 26, 2014

We're not Alone: Figur-Figur Publik yang Belum Memiliki Momongan.. edited but not valid

  1. Adam Jordan dan istri. Bintang iklan pepsodent dan aktor senior ini telah menikah sejak tahun 1999, namun tak kunjung dikaruniai buah hati.
  2. Al Fathir Muchtar dan Fera Feriska. Keduanya adalah pemain sinetron berjudul "Jangan Pisahkan Aku" dan telah menikah dari tahun 2006 lalu.
  3. Cynthia Lamusu dan Surya Saputra. Pasangan yang telah menikah dari tahun 2008 ini sesungguhnya sangat mengharapkan kehadiran buah hati, hanya saja mereka belum juga dikaruniai momongan. Namun hubungan mereka tampak tak terpengaruh hal tersebut, mereka selalu tampil harmonis. update: mereka sekarang udah punya anak pakai program bayi tabung..Alhamdulillah
  4. Dewi Sandra dan Agus Rahman. Saat menikah pertama kali dengan Surya Saputra, Dewi tidak dikaruniai anak. Begitu pula saat menikah kedua kali dengan Glenn Fledly selama 3 tahun. Bersama suami ketiga, Dewi Sandra dikabarkan sedang berusaha.
  5. Happy Salma dan Tjokorda Bagus Dwi Santana Kertayasa. Happy menikah dengan seorang anak raja dari Bali dari tahun 2010. Pasangan artis dan fotografer ini belum dikaruniai momongan. (Updated: mereka udah punya anak sekarang..yeayy)
  6.  Irwansyah dan Zaskia Sungkar
    Pasangan ini menikah pada 15 Januari 2011 silam. updated: Alhamdulillah udah punya anak juga :D
  7. Lulu Luciana Tobing dan Denny Rukmana. Lulu menikah dengan putra bungsu ibu Tutut dari tahun 2006 dan belum dikaruniai anak.
  8. Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale. Pasangan yang sudah menikah dari tahun 2003 ini belum dikaruniai anak, namun mereka cukup berbahagia dan sibuk mengurus rumah produksi film,Alenia. Saat menikah pertama kali dengan almarhum suami selama 4 tahun, Nia juga tidak dikaruniai anak.
  9. Nina Tamam dan suami. Nina, personel grup vokal Warna yang dulu bernama Nining ini telah menikah dari tahun 2002 namun belum dikaruniai momongan.
  10. Tamara Geraldine. Tamara menikah dengan pria berkebangsaan Vietnam pada tahun 2000 dan belum dikaruniai anak. Namun pasangan ini telah mengadopsi seorang anak.
  11. Istri Shalihah dan Suami Shalih :D
                                                        (emang public figur gitu? :p)




Wednesday, May 7, 2014

HSG a.k.a Histerosalpingografi adalah... jeng jeng jeng

HYSTERIA HISTEROSALPINGOGRAFI (sorry lil bit typo)

Bismillah..

#1 TES HISTEROSALPINGOGRAFI (HSG)

Setelah menghitung hari..tibalah saat h+9 mens, tanggal di mana dokter DIP menginstruksikan saya untuk melakukan tes Histerosalpingografi atau HSG. Bagi yang bertanya-tanya apa itu Histerosalpinografi, berikut definisinya saya ambil dari sini:
Histerosalpinogografi atau HSG adalah pemeriksaan secara radiologi organ reproduksi wanita bagian dalam pada daerah uterus, tuba fallopii, cervix dan ovarium mengunakan media kontras positif.
Tujuan dilakukannya tes ini (berdasarkan sumber di atas juga) yaitu:
  1. Menentukan keberhasilan tindakan operasi sterilitas, (tentunya bukan untuk kasus saya.hamil-aj-belom-masa-mu-operasi-steril)
  2. Fibronyoma pada uteri, (haduh ini apaan semoga ga terjadi ma eike)
  3. Hypoplasia endometri, (ga tau juga apaan, tp koq ada endometres-endometres gitu ya cyin)
  4. Sterilitas primer maupun sekunder untuk melihat normal tuba (paten tidaknya tuba), -yeah, that's it!
  5. Perlekatan-perlekatan dalam uterus,adenomiosis (ini juga mungkin berlaku untuk saya juga ...entahlah..)
Nah, pemeriksaan ini punya beberapa aturan juga. Sesuai perintah Dr. DIP , saya harus tes saat h+9 mens dan abstinentia alias tidak  berhubungan seks. Dengan asumsi mens 7 hari, berarti saya hanya harus menahan dua hari *apa sih* *sensor*. Kenapa sih ga boleh berhubungan duluu? karena nanti periksanya kan dirontgen. Rontgen means X-ray. X-ray itu bahaya untuk janin, bs keguguran. jadi dengan tidak berhubungan seksual dulu, otomatis potensi adanya janin yg tumbuh jg kecil, bahkan ga ada. Nah, udah sih cuma dua hal ini yang diperahkan dr.DIP untuk dilakukan, selebihnya saya malah baru tau dari internet. Di sumber lain disebutkan bahwa sebelum HSG diharapkan pasien pipis dan ngosongin perut juga. ohya, ada satu catatan penting juga, jangan lupa untuk membawa satu buah pembalut (kalo saya langsung dipake aja).

Tes HSG kalo di Bunda sih harus lewat perjanjian. Jadi pas setelah periksa pertama kemariin, pulangnya saya mampir dulu ke bagian radiologi untuk daftar. Beberapa hari setelah periksa awal itu, pihak Bunda melalui mbak-mbak suster menelepon saya bahwa jadwalnya hari Senin jam 9 (actually, im a bit forgot the time). Tes HSG ini karena emang periksanya ga bisa seenak udel, harus disesuaiin sama jadwal mens. Jadilah hari senin sy ijin. Kali ini misua mengajukan cuti lagi demi menemani saya (uh ai lop yu hubby :*)

Paginya saya datang, tapi luama banget si dokter datengnya.. Hmm, sampe kedinginan deh. Ada kali saya nunggu 2 jam. Dan setelah dokternya dateng, saya ga langsung ditanganin, cm disuruh ganti sama baju putih khas rumah sakit (yang kaya sundel bolong itu loh, belakangnya menganga) sama disuruh nunggu di ruangan 'eksekusi'. Akhirnya mungkin setengah jam kemudian, si dokter baru dateng lagi. Sementara saya disuruh tiduran di singgasana. Begini kira2 penampakan meja radiologi ituh
sumber

Awalnya, saya disuruh duduk di ujung tempat tidur dgn posisi, hmm, ngangkang. (thesaurus mana thesaurus) Abis itu mulai deh si dokter melakukan tugasnya. Untungnya cewek deh. Kemarin harap-harap cemas bertanya2 siapa dokternya. ce atau co. Suami sih khawatir, tapi dia ga nyuruh untuk konfirmasi ttg ini ke Bunda. Katanya, kalau cowok, masak kamu trus ga jadi HSG. Gitu.. Tapi Alhamdulillah ya Alloh dokternya cewek.

Oke back to topic. Saya sih ga bisa lihat apa yang dia lakukan di 'bawah' sana. Tapi intinya dia pasang kateter untuk memasukkan cairan kontras. Saya sempet nanya, kalo kateter, berarti kalau saya kebelet pipis, boleh dong langsung dikeluarin aja. Tapi ternyata kateter ini ga nyambung ke saluran kencing tapi saluran reproduksi *menurut ngana* haha, dodol juga ya sayah. Emangnya cowok, kedua saluran itu di satu 'tempat'. Selengkapnya mengenai proses HSG mending saya copas lagi aja deh ya dari website yang lumayan lengkap ini:

Pemasukan media kontras bisa dilakukan dengan dua cara yaitu dengan HSG Set dan dengan Katerer. Media kontras yang dipakai adalah media kontras positif jenis Iodium water soluble yang sering digunakan adalah Urografin 60%, Urografin 76 %.

1. Pemasukan media kontras menggunakan HSG Set
No comment untuk gambar HSG set ini :D
  • Setelah pasien diposisikan lithotomi, daerah vagina diberikan menggunakan desinfektan, diberi juga obat antiseptik daerah cervix.
  • Spekulum digunakan untuk membuka vagina dan memudahkan HSG Set masuk kemudian bagian dalam vagina dibersihkan dengan betadin, kemudian sonde uteri dimasukan untuk mengukur kedalaman serta arah uteri.
  • Siapkan HSG set yang telah dimasuki media kontras, sebelum dimasukkan terlebih dahulu semprotkan media kontras sampai keluar dari ujung HSG set..
  • Dengan bantuan long forcep, HSG set dimasukan perlahan ke ostium uteri externa.
  • Pasien diposisikan ditengah meja pemeriksan dan mulai disuntikan media kontras jumlahnya sekitar 6 ml atau lebih
  • Media kontras akan mengisi uterus dan tuba fallopii, atur proyeksi yang akan dilakukan serta ambil radiografinya
  • Setelah semua proyeksi dilakukan kemudian daerah vagina dibersihkan.
2. Pemasukan media kontras menggunakan Kateter
Kateter
  • Setelah pasien diposisikan lithotomi, daerah vagina diberikan menggunakan desinfektan, diberi juga obat antiseptik daerah cervix.
  • Spekulum digunakan untuk membuka vagina dan memudahkan kateter masuk kemudian bagian dalam vagina dibersihkan dengan betadin, kemudian sonde uteri dimasukan untuk mengukur kedalaman serta arah uteri.
  • Spuit yang telah terisi media kontras dipasang pada salah satu ujung kateter, sebelumnya kateter diisi terlebih dahulu dengan media kontras sampai lumen kateter penuh.
  • Dengan bantuan long forcep, kateter dimasukan perlahan ke ostium uteri externa
  • Balon kateter diisi dengan air steril kira-kira 3 ml sampai balon mengembang diantara ostium interna & externa, balon ini harus terkait erat pd canalis servicalis, kemudian spekulum dilepas.
  • Pasien diposisikan ditengah meja pemeriksan dan mulai disuntikan media kontras jumlahnya sekitar 6 ml atau lebih
  • Media kontras akan mengisi uterus dan tuba fallopii, atur proyeksi yang akan dilakukan serta ambil radiografinya
  • Balon dikempeskan dan kateter dapat ditarik secara perlahan
  • Setelah semua proyeksi dilakukan kemudian daerah vagina dibersihkan.

Nah, begitulah yang terjadi di dalam sana manteman.. foto radiologinya, kita disuruh berbaring, miring panggul ke kiri dan kanan. Hasilnya bisa tau dari hari itu juga. Dan singkat cerita, dokter radiologinya bilang kalau kedua tuba falopiinya saya keduanya paten. Namun untuk yang sebelah kanan, cairannya terlambat 'tumpah'. Hal ini disebabkan karena kista itu juga sih kayanya. Tapi walaupun lambat, akhirnya tuba falopii itu juga kemasukan cairan kontras.

Kesimpulannya: hasil HSG saya terbilang baik, Alhamdulillah.  Eh iya, saya lupa bilang. Kata dr. DIP saat nyuruh saya tes ini, dia bilang kalo HSG itu tes yang paling ga enak. Efeknya bisa nyeri di perut kaya hari pertama dapet. Nah, kalau menurut pengalaman saya sendiri sih, pas proses masukin kateter itu emang sempet bikin alis mengernyit, tapi slebihnya saya gak ngerasain apa-apa. NAh tapi yang tentang nyeri itu benerr banget. Hihihi. Saya sampe susah berdiri tegak saking sakitnya. Tapi sakit ini ga saya rasakan langsung setelah penanganan. Setelah 3-4 jam baru terasa efek WOW-nya.

Segitu aja cerita dari saya..berikut saya lampirkan beyaya HSG di Bunda:

Berhubung proses HSG ini dicover asuransi kantor (ALHAMDULILLAHIRROBBIL 'ALAMIIN, terima kasih ya Alloh karena ini sangat membantu saya), kwitansinya dibawa pihak RS untuk diklaim ke asuransinya. Ini saya cantumkan receipt dari proses klaimnya aja ya.. Jadi biaya tes diagnosa Rp 810k, biaya adm 25k. total Rp. 835.000,- Murah/mahal gak sih ini? hehe

Oke sekian review tes HSG kali ini..semoga manfaat ya untuk saudari-saudariku pejuang momongan jugaa..

Ohya, tips terakhir dari saya (dari dokternya sih sebenernya), abis HSG ini, banyakin minum biar cairan kontrasnya yang masih nyisa tadi bisa cepet keluar bersama urin........


_Istri Shalihah (Insya Allah) _24 tahun_bingung karena tadi dibilang saluran kencing dan reproduksi beda_tapi kenapa cairan kontras keluar bareng urin?

kenapa..
kenapaa??!!!

*drama*

Wednesday, April 16, 2014

Aku Iri...

Aku iri pada perempuan hamil
Aku iri pada orang yang punya anak
Aku iri melihat senyum yang dibuat anak2 orang lain pada orangtua mereka
Aku iri melihatperempuan-perempuan mempersiapkan kehamilan dan persalinannya.
Aku iri pada mereka..

Tapi aku lebih iri pada orang-orang yang jelas-jelas lebih kekurangan daripadaku, mereka tetap tersenyum seakan tak ada kesulitan yang melanda mereka.

Sebetulnya, wanita hamil itupun merasa sulit, namun yang terlihat di hadapanku hanyalah kebahagiaan.
Begitupun orang2 yang memiliki anak, merekapun mempunyai kesedihan mereka masing2.
Kita tidak sepatutnya untuk iri. Karena sejatinya, semua keadaanpun pada akhirnya akan kita keluhkan.

Dulu aku mengira kuliah itu membahagiakan. Memang membahagiakan, namun kala tanggal tuapun menjadi mahasiswa terasa menyulitkan. Apalagi di saat homesick, atau skripsi..

Dulu aku mengira pernikahan itu membahagiakan. Ternyata memang membahagiakan, namun tidak setiap saat juga. Tetap ada saatnya saat-saat sulit dalam hidup menikah.

Dulu aku mengira bekerja itu membahagiakan, namun ternyata, memang membahagiakan walaupun perjalanan dan intrik-intrik di dalamnya melelahkan.

Dulu aku mengira tidak bekerja itu menyenangkan. Cukup diam di rumah, santai2, tau2 pekerjaan rumah selesai dan makanan sudah dihidangkan. Namun ternyata tidak bekerja juga membuat frustasi.

Setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing. Kalau kita sudah mendapatkan yang kita mau, tidak jarang kita malah merindukan keadaan kita terdahulu. Intinya, bersyukur, bersyukur, bersyukur....

Tuesday, April 8, 2014

Konsultasi Pertama ....

ilustrasi konsultasi pertama (itu maksudnya muka bingung.. tapi jatuhnya kaya cewek kegenitan)

Tibalah saatnya hari ini,hehe. Setelah hari-hari sebelumnya penuh kecemasan dan pertimbangan untuk memeriksakan diri ke dokter, akhirnya saya dan suami pergi ke dokter kandungan ahli (in)fertilitas. Hari ini (26 Januari 2014) saya tepat mengalami mens hari kedua. Jadi hari ini saya bermaksud menelpon pihak RS Bunda Margonda untuk meminta jadwal dr. Dian Indah Purnama (DIP) hari ini. Usut punya usut, dr.DIP di hari senin jadwalnya jam 14.00-18.00 dan dia cuma nerima 20 pasien saja.Saat saya mengetahui hal tersebut, saya sudah masuk kantor, dan waktu menunjukkan pukul 9. Berarti saya hanya punya waktu maksimal sampai istirahat siang untuk mulai berangkat dari kantor.

Dengan sedikit panik saya men-chat suami saya. Membujuknya untuk ijin kantor dan menemani saya ke RS. Pasalnya, semua referensi yang saya dapat, menyarankan untuk menyertakan suami saat pemeriksaan infertilitas. Nah, hal ini memang dibenarkan oleh pakar. Begini penjelasannya menurut website ini,

Faktor suami memberikan kontribusi infertilitas sebesar 30% , istri sebesar 30%, suami dan istri 10%, dan sisanya 20% merupakan penyebab infertilitas yang tidak dapat dijelaskan, dimana dari hasil pemeriksaan medik pada pria maupun wanita didapatkan keduanya normal.
Nah, singkatnya, akhirnya saya dan suami langsung janjian naik kereta ke RS Bunda Margonda. Sesampainya di sana, kami mendaftar dan mendapat nomor 11. Setelah tunggu punya tunggu, jam 14 itu dokter DIP masih ada tindakan katanya.. err.. okay, akhirnya kami mengisi waktu dengan mengganti pembalut (saya), makan snack, beli minum (suami), ganti pembalut lagi..... Sampe jam 4 ga juga dateng dokternya. Heuu.. akhirnya suami tak tahan lagi dan akhirnya pergi mencari makanan. Apalagi ponsel kami sama2 mati keabisan batere. Kata anak gaul, mati hape=mati gaya. :D

Nah, beberapa saat setelah suami keluar, akhirnya saya dipanggil. Waduh, piye iki. bojoku nengdi? Panik sebentar namun tetap menguasai diri dong. Pikir saya, dia pergi cuma bentar. AKhirnya saya masuk dan bertemulah dengan dr. DIP. orangnya cantik sih, ramah, tapi raut lelah di wajahnya ga bisa disembunyikan. Saya ditanya mengenai usia saya, suami, usia pernikahan, apakah suami merokok/minum alkohol, siklus haid berapa hari.. Siklus haid ini maksudnya adalah berapa lama jarak antar mens hari pertama dengan berikutnya. Saya jawab, 30 hari. Lalu dr. DIP bilang, "oke, lulus kalo gitu. Kebanyakan pasien2 jawabnya kalao ditanya siklusnya brp hari, pada jawab berapa hari mereka biasanya haid" Geer dikit lah jadinya,hihihi. Lalu sampailah saya pada pemeriksaan USG transvaginal. sempet deg-degan. Malu juga, secara haid kedua itu kan.. banjir bandang, bo'.. aku minta maap sama susternya.. haduh..yah begitulah resiko jadi dokter n suster ya.. Nah, alat USGnya itu berbentuk lonjong panjang kaya.. apa yah..hihihi. Nah, alat asing itulah yang akhirnya masuk ke vagina, dari penampakan di layar, terlihat bahwa ada kista sebesar 1,3 cm di indung telur sebelah kanan saya. Rada panik juga.. Ternyata saya juga ada kista. Namun dr. DIP berusaha menenangkan dengan berkata bahwa kista ini bisa saja hilang. Dilihat saat periksa lagi. Kapan waktunya konsultasi berikutnya? Dia bilang bahwa saya harus melewati serangkaian tes terlebih dahulu untuk kemudian menentukan langkah selanjutnya. Itulah akhir dari konsultasi pertama saya yang akhirnya ga ada suami juga,heuu.. Ya ga apalah, at least dia udah usaha buat dateng walaupun pas pemeriksaan malah cari makan. -.-"

Tes-tes yang harus saya(+suami) lakukan adalah tes Histerosalpinografi (HSG), tes hormon prolaktin dan progresteron dan analisa sperma. HSG harus dilakukan di h+9, sementara tes hormon di H+22. tes sperma bebas asal ga berhubungan/ga mengeluarkan sperma selama 3-5 hari..

Fiuuhhh..
btw, ini totalan biaya konsultasi program hamil pertama di RS Bunda Margonda (harga per Januari 2014)

Konsultasi dokter spesialis        : Rp 125.000,-
Tindakan USG                           : Rp   50.000,-
Alat USG                                   : Rp 228.000,-
Biaya Umum RS                        : Rp   25.000,- (administrasi kali ya?)
Kondom Sutra                            : Rp     1.400,- (ini buat ngelapisin ujung alat USG transV yg masup ke vagina)

GRAND TOTAL                          Rp 429.400,-  

Alhamdulillah.. dicover sama asuransi kantor..mungkin karena faktor kistanya ya? blessing in disguise juga sih.. jadi ga usah berbohong agar asuransi bisa diklaim.

Oke segitu dulu ya.. apa mau dilanjut ke proses HSG dan hormon? hehe.. pas saya nulis ini sih, semuanya udah, hehe.. tapi biar seru, jadiin bersambung aja deh yah..

Thanks for reading ya.. keep on believing, keep fighting, keep du'a-ing :D

Wednesday, April 2, 2014

Kapan Waktunya Periksa ke Dokter Fertilitas?

sumber

Bismillah..

Bulan ini pernikahan saya memasuki usia 11 bulan. Genap sebulan lagi, akan tersemat kata-kata itu..infertilitas. (berdasarkan definisi menurut web ini ) Kesannya gimana banget ya, huhuhu.. Tapi begitulah keadaanya. Saya dulu pede banget sebelum nikah, mengira akan cepat hamil. Beberapa hari setelah nikah aja udah beli test-pack.. Setiap bulan menanti-nanti..jadi nggak yah,, Terus sok-sok ga jalan cepet2 atau minta suami jangan ngebut dan nerjang gundukan di jalan karena takut "ada dedenya". Pernah juga tuh salah perhitungan, harusnya haid setiap tanggal 25an, tapi ingetkan tanggal 17. Alhasil pas sampe tanggal 20 udah geer lagi..dan ketika tanggal 25nya haid..nangis heboh deh pas ditelpon Ibu..

Fiuhh, begitulah kira-kira, siklus bulanan saya, selain haid, juga ada fase2 bersedih. Mungkin sugesti juga sih kalau sedih menjelang dan selama menstruasi. Kecampur-campur sama PMS, jadi makin sedih. Selain itu biasanya di fase ini ada pertengkaran sama suami juga.

Saya memang sadar bahwa mood itu kita sendiri yang ciptakan,. bukan keadaan, tapi saya masih belum terbiasa dengan itu. Akhirnya dengan saran ibu saya, saya sendiri memposisikan mindset saya bahwa, "bulan ini saya menstruasi" agar saya tidak berharap terlalu tinggi. Namun, berdoa dan berusaha tetap wajib hukumnya.

Kebanyakan pendapat menyarankan agar pasangan yang belum dikaruniai anak memeriksakan diri ke dokter obsgyn  setelah setahun menikah. Namun ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa jika 3 bulan menikah belum ada tanda2 kehamilan, segeralah periksa, karena tiga bulan pun cukup menggambarkan bahwa ada yang 'salah di tubuh kita'.

Terserah pada keyakinan kita, namun saya pribadi akhirnya memeriksakan diri pada usia pernikahan ke-11, alias sekarang-sekarang ini. Hehe..

Sebenarnya saya prefer memeriksakan diri secepatnya beberapa bulan setelah menikah, namun saya terkendala banyak hal. Nggak banyak sih sebenernya, tapi signifikan. Apa sih, haha. Uang. Itu doang sih. Hehe. Program hamil itu ga murah lho, sodara-sodara. Periksa doang juga mahal. Nah, di sinilah saya baru merasakan keuntungan menjadi karyawan. Karena ada asuransi kesehatan tentunya. Namun tentunya juga gak bisa mengandalkan seratus persen asuransi sih, karena kebanyakan perusahaan tidak menyertakan problem infertilitas termasuk dalam benefit asuransi.

Okay, untuk memilih dokter spesialis (in)fertilitas ini saya mencari-cari di internet, kaya biasa, hehe. Saya pilih terutama yang dekat rumah, yaitu Depok. Nah di Depok ini, klinik fertilitas yang saya tahu (dan terlihat keren di mata saya,hehe) yaitu RS Bunda. Hal ini dikarenakan (ampun bahasanyaaa) di RS Bunda itu emang ada klinik khusu bayi tabung berjudul "IVF Morula". Soo, I conclude that the hospital has a specialty to infertility treatment..

Dokternya siapa? karena suami wanti-wanti harus cewek dokternya, jadilah hanya ada dua pilihan. dr. Dian Indah Purnama dan dr. Mira Myrnawati. Yang mana akhirnya saya pilih dr. Dian karena setelah googling, nama dia lebih populer. Which is kalau dia lebih populer, pengalaman dan success story-nya lebih banyak. Ya kan? ya doong (semoga). Tambahan lagi, si dokter ini ternyata punya akun twitter yang lumayan aktif (apeeuu).

Akhirnya, setelah memutuskan dokter dan RSnya, saatnya sekaranglah untuk daftaaarr.. Saya menghubungi pihak RS, ngobrol-ngobrol dengan susternya (susternya lumayan smart dan komunikatif), dan akhirnya dia membenarkan jika emang kebanyakan pasien program hamil perginya ke dokter Dian. (tuh kan bener feeling sayaaah) Si suster juga menyebutkan bahwa saat konsultasi, sebaiknya saat mens hari kedua.. Ternyata eh ternyata, hal ini disebakan karena penyakit-penyakit/kelainan dalam rahim bisa tuntas terlihat pada saat menstruasi. Mungkin disebabkan hormon yah.. but i don't exactly know what's the reason actually..

Cerita-cerita detail tentang pemeriksaan saya diceritain di posting berikutnya yaa, Insya Allah.. keep on believing, keep du'a-ing :D