Showing posts with label program hamil. Show all posts
Showing posts with label program hamil. Show all posts

Sunday, September 27, 2015

Ikhtiar Hamil

"Mbak hamil ya mbak, sini duduk mbak," pintanya kepadaku yang memang sedang berdiri di gerbong wanita commuter line.

"Nggak mbak, aku nggak hamil." Jawabku singkat. Tapi tak jarang beberapa yang mengira aku hamil tetap mempersilakan aku duduk menggantikannya. Ya sudahlah, rezeki, alhamdulillah. He he he

Entah sudah berapa banyak wanita yang berkata demikian kepadaku. Semuanya mengira aku adalah ibu hamil yang harus diprioritaskan. Aku tentu sangat maklum, sejak menikah hampir 3 tahun silam berat badanku naik 10 kg dari sebelumnya 58 kg. Mungkin gara-gara ini aku jadi terlihat lebar dan endut seperti bumil, ibu hamil.

Disatu sisi, aku tetap bersyukur, meski badanku naik dari kelas bulu jadi kelas walter kalau di dunia tinju, hahaha..Ini kan artinya, Allah masih mencukupi makan dan minumku. Namun disisi lain, aku tak dapat menutupi perasaanku atas banyaknya pertanyaan seputar hamil, hamil dan hamil.

Ya, jangan tanya, aku juga pasti bersedih. Namanya juga wanita, yang kebanyakan perasaannya lebih dominan dibandingkan logikanya. Namun demikian, prasangka baik mereka kalau aku hamil, pertanyaan mereka, aku anggap saja sebagai doa. Ya Allah kabulkanlah permohonan kami. Amin.

Tentu, aku dan sumami pasti merindukan kehadiran si buah hati. Namun demikian, disinilah, kami semakin sadar, kami adalah hamba yang lemah dan Allah-lah Sang Pencipta, Allah-lah Sang Produser, Sang Penulis skenario kehidupan.

Kami hanya bisa berusaha. Berbagai upaya medis juga sudah coba kami jalani, mulai dari dokter sampai alternatif. Beragam asupan mulai dari obat hormon hingga herbal juga sudah pernah dicoba. Aku juga sudah lama resign dari pekerjaanku, supaya lebih santai dan tidak stres, barangkali aku jadi bisa hamil. Tetapi kembali lagi, ya inilah takdir. Secanggih apapun teknologi, seterkenal apapun dokter yang menangani, sehebat apapun tabib alternatif. La haula wa la quwwata illa billah, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

Selain bercerita dalam doa kepada Yang Maha Kuasa. Sudah sejak awal tahun 2014 aku juga bercerita, berbagi kisah melalui blog ini. Aku tulis di colour note ponsel pintarku yang sudah seperti smartfren bagiku, aku upload di aplikasi bloggerku. Aku ingin seperti Emak Gaoel yang punya teman bercerita, karena aku yakin aku bukanlah wanita pertama yang juga menjalani ikhtiar hamil sepertiku. Aku hanya ingin menulis dan berbagi bersama mereka. Ya mereka, mereka yang berikhtiar hamil, sama sepertiku.

Alhamdulillah aku syukuri hingga sekarang, total tayangan lamannya melebihi ekspektasi. Sebagai bandingan, blog pertamaku yang sudah ada sejak tahun 2009, hitsnya baru 5000-an. Sementara blog ini sudah dibaca hampir 12 ribuan hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun, itupun aku jarang mempromosikannya. Yang juga menggembirakan, setiap mengetik "Dokter Spesialis Infertilitas Depok", mesin pencarian Google sudah mengenalnya. Ah tapi, keterkenalan bukan itu niatanku.

Semoga Tuhan selalu meluruskan niat utamaku untuk terus menulis di blog ini dan berbagi kebahagiaan meski aku dan para pembacanya belum juga dikaruniai si buah hati. Go for it.
Go For It Blog Competition

Wednesday, May 7, 2014

HSG a.k.a Histerosalpingografi adalah... jeng jeng jeng

HYSTERIA HISTEROSALPINGOGRAFI (sorry lil bit typo)

Bismillah..

#1 TES HISTEROSALPINGOGRAFI (HSG)

Setelah menghitung hari..tibalah saat h+9 mens, tanggal di mana dokter DIP menginstruksikan saya untuk melakukan tes Histerosalpingografi atau HSG. Bagi yang bertanya-tanya apa itu Histerosalpinografi, berikut definisinya saya ambil dari sini:
Histerosalpinogografi atau HSG adalah pemeriksaan secara radiologi organ reproduksi wanita bagian dalam pada daerah uterus, tuba fallopii, cervix dan ovarium mengunakan media kontras positif.
Tujuan dilakukannya tes ini (berdasarkan sumber di atas juga) yaitu:
  1. Menentukan keberhasilan tindakan operasi sterilitas, (tentunya bukan untuk kasus saya.hamil-aj-belom-masa-mu-operasi-steril)
  2. Fibronyoma pada uteri, (haduh ini apaan semoga ga terjadi ma eike)
  3. Hypoplasia endometri, (ga tau juga apaan, tp koq ada endometres-endometres gitu ya cyin)
  4. Sterilitas primer maupun sekunder untuk melihat normal tuba (paten tidaknya tuba), -yeah, that's it!
  5. Perlekatan-perlekatan dalam uterus,adenomiosis (ini juga mungkin berlaku untuk saya juga ...entahlah..)
Nah, pemeriksaan ini punya beberapa aturan juga. Sesuai perintah Dr. DIP , saya harus tes saat h+9 mens dan abstinentia alias tidak  berhubungan seks. Dengan asumsi mens 7 hari, berarti saya hanya harus menahan dua hari *apa sih* *sensor*. Kenapa sih ga boleh berhubungan duluu? karena nanti periksanya kan dirontgen. Rontgen means X-ray. X-ray itu bahaya untuk janin, bs keguguran. jadi dengan tidak berhubungan seksual dulu, otomatis potensi adanya janin yg tumbuh jg kecil, bahkan ga ada. Nah, udah sih cuma dua hal ini yang diperahkan dr.DIP untuk dilakukan, selebihnya saya malah baru tau dari internet. Di sumber lain disebutkan bahwa sebelum HSG diharapkan pasien pipis dan ngosongin perut juga. ohya, ada satu catatan penting juga, jangan lupa untuk membawa satu buah pembalut (kalo saya langsung dipake aja).

Tes HSG kalo di Bunda sih harus lewat perjanjian. Jadi pas setelah periksa pertama kemariin, pulangnya saya mampir dulu ke bagian radiologi untuk daftar. Beberapa hari setelah periksa awal itu, pihak Bunda melalui mbak-mbak suster menelepon saya bahwa jadwalnya hari Senin jam 9 (actually, im a bit forgot the time). Tes HSG ini karena emang periksanya ga bisa seenak udel, harus disesuaiin sama jadwal mens. Jadilah hari senin sy ijin. Kali ini misua mengajukan cuti lagi demi menemani saya (uh ai lop yu hubby :*)

Paginya saya datang, tapi luama banget si dokter datengnya.. Hmm, sampe kedinginan deh. Ada kali saya nunggu 2 jam. Dan setelah dokternya dateng, saya ga langsung ditanganin, cm disuruh ganti sama baju putih khas rumah sakit (yang kaya sundel bolong itu loh, belakangnya menganga) sama disuruh nunggu di ruangan 'eksekusi'. Akhirnya mungkin setengah jam kemudian, si dokter baru dateng lagi. Sementara saya disuruh tiduran di singgasana. Begini kira2 penampakan meja radiologi ituh
sumber

Awalnya, saya disuruh duduk di ujung tempat tidur dgn posisi, hmm, ngangkang. (thesaurus mana thesaurus) Abis itu mulai deh si dokter melakukan tugasnya. Untungnya cewek deh. Kemarin harap-harap cemas bertanya2 siapa dokternya. ce atau co. Suami sih khawatir, tapi dia ga nyuruh untuk konfirmasi ttg ini ke Bunda. Katanya, kalau cowok, masak kamu trus ga jadi HSG. Gitu.. Tapi Alhamdulillah ya Alloh dokternya cewek.

Oke back to topic. Saya sih ga bisa lihat apa yang dia lakukan di 'bawah' sana. Tapi intinya dia pasang kateter untuk memasukkan cairan kontras. Saya sempet nanya, kalo kateter, berarti kalau saya kebelet pipis, boleh dong langsung dikeluarin aja. Tapi ternyata kateter ini ga nyambung ke saluran kencing tapi saluran reproduksi *menurut ngana* haha, dodol juga ya sayah. Emangnya cowok, kedua saluran itu di satu 'tempat'. Selengkapnya mengenai proses HSG mending saya copas lagi aja deh ya dari website yang lumayan lengkap ini:

Pemasukan media kontras bisa dilakukan dengan dua cara yaitu dengan HSG Set dan dengan Katerer. Media kontras yang dipakai adalah media kontras positif jenis Iodium water soluble yang sering digunakan adalah Urografin 60%, Urografin 76 %.

1. Pemasukan media kontras menggunakan HSG Set
No comment untuk gambar HSG set ini :D
  • Setelah pasien diposisikan lithotomi, daerah vagina diberikan menggunakan desinfektan, diberi juga obat antiseptik daerah cervix.
  • Spekulum digunakan untuk membuka vagina dan memudahkan HSG Set masuk kemudian bagian dalam vagina dibersihkan dengan betadin, kemudian sonde uteri dimasukan untuk mengukur kedalaman serta arah uteri.
  • Siapkan HSG set yang telah dimasuki media kontras, sebelum dimasukkan terlebih dahulu semprotkan media kontras sampai keluar dari ujung HSG set..
  • Dengan bantuan long forcep, HSG set dimasukan perlahan ke ostium uteri externa.
  • Pasien diposisikan ditengah meja pemeriksan dan mulai disuntikan media kontras jumlahnya sekitar 6 ml atau lebih
  • Media kontras akan mengisi uterus dan tuba fallopii, atur proyeksi yang akan dilakukan serta ambil radiografinya
  • Setelah semua proyeksi dilakukan kemudian daerah vagina dibersihkan.
2. Pemasukan media kontras menggunakan Kateter
Kateter
  • Setelah pasien diposisikan lithotomi, daerah vagina diberikan menggunakan desinfektan, diberi juga obat antiseptik daerah cervix.
  • Spekulum digunakan untuk membuka vagina dan memudahkan kateter masuk kemudian bagian dalam vagina dibersihkan dengan betadin, kemudian sonde uteri dimasukan untuk mengukur kedalaman serta arah uteri.
  • Spuit yang telah terisi media kontras dipasang pada salah satu ujung kateter, sebelumnya kateter diisi terlebih dahulu dengan media kontras sampai lumen kateter penuh.
  • Dengan bantuan long forcep, kateter dimasukan perlahan ke ostium uteri externa
  • Balon kateter diisi dengan air steril kira-kira 3 ml sampai balon mengembang diantara ostium interna & externa, balon ini harus terkait erat pd canalis servicalis, kemudian spekulum dilepas.
  • Pasien diposisikan ditengah meja pemeriksan dan mulai disuntikan media kontras jumlahnya sekitar 6 ml atau lebih
  • Media kontras akan mengisi uterus dan tuba fallopii, atur proyeksi yang akan dilakukan serta ambil radiografinya
  • Balon dikempeskan dan kateter dapat ditarik secara perlahan
  • Setelah semua proyeksi dilakukan kemudian daerah vagina dibersihkan.

Nah, begitulah yang terjadi di dalam sana manteman.. foto radiologinya, kita disuruh berbaring, miring panggul ke kiri dan kanan. Hasilnya bisa tau dari hari itu juga. Dan singkat cerita, dokter radiologinya bilang kalau kedua tuba falopiinya saya keduanya paten. Namun untuk yang sebelah kanan, cairannya terlambat 'tumpah'. Hal ini disebabkan karena kista itu juga sih kayanya. Tapi walaupun lambat, akhirnya tuba falopii itu juga kemasukan cairan kontras.

Kesimpulannya: hasil HSG saya terbilang baik, Alhamdulillah.  Eh iya, saya lupa bilang. Kata dr. DIP saat nyuruh saya tes ini, dia bilang kalo HSG itu tes yang paling ga enak. Efeknya bisa nyeri di perut kaya hari pertama dapet. Nah, kalau menurut pengalaman saya sendiri sih, pas proses masukin kateter itu emang sempet bikin alis mengernyit, tapi slebihnya saya gak ngerasain apa-apa. NAh tapi yang tentang nyeri itu benerr banget. Hihihi. Saya sampe susah berdiri tegak saking sakitnya. Tapi sakit ini ga saya rasakan langsung setelah penanganan. Setelah 3-4 jam baru terasa efek WOW-nya.

Segitu aja cerita dari saya..berikut saya lampirkan beyaya HSG di Bunda:

Berhubung proses HSG ini dicover asuransi kantor (ALHAMDULILLAHIRROBBIL 'ALAMIIN, terima kasih ya Alloh karena ini sangat membantu saya), kwitansinya dibawa pihak RS untuk diklaim ke asuransinya. Ini saya cantumkan receipt dari proses klaimnya aja ya.. Jadi biaya tes diagnosa Rp 810k, biaya adm 25k. total Rp. 835.000,- Murah/mahal gak sih ini? hehe

Oke sekian review tes HSG kali ini..semoga manfaat ya untuk saudari-saudariku pejuang momongan jugaa..

Ohya, tips terakhir dari saya (dari dokternya sih sebenernya), abis HSG ini, banyakin minum biar cairan kontrasnya yang masih nyisa tadi bisa cepet keluar bersama urin........


_Istri Shalihah (Insya Allah) _24 tahun_bingung karena tadi dibilang saluran kencing dan reproduksi beda_tapi kenapa cairan kontras keluar bareng urin?

kenapa..
kenapaa??!!!

*drama*

Wednesday, April 16, 2014

Aku Iri...

Aku iri pada perempuan hamil
Aku iri pada orang yang punya anak
Aku iri melihat senyum yang dibuat anak2 orang lain pada orangtua mereka
Aku iri melihatperempuan-perempuan mempersiapkan kehamilan dan persalinannya.
Aku iri pada mereka..

Tapi aku lebih iri pada orang-orang yang jelas-jelas lebih kekurangan daripadaku, mereka tetap tersenyum seakan tak ada kesulitan yang melanda mereka.

Sebetulnya, wanita hamil itupun merasa sulit, namun yang terlihat di hadapanku hanyalah kebahagiaan.
Begitupun orang2 yang memiliki anak, merekapun mempunyai kesedihan mereka masing2.
Kita tidak sepatutnya untuk iri. Karena sejatinya, semua keadaanpun pada akhirnya akan kita keluhkan.

Dulu aku mengira kuliah itu membahagiakan. Memang membahagiakan, namun kala tanggal tuapun menjadi mahasiswa terasa menyulitkan. Apalagi di saat homesick, atau skripsi..

Dulu aku mengira pernikahan itu membahagiakan. Ternyata memang membahagiakan, namun tidak setiap saat juga. Tetap ada saatnya saat-saat sulit dalam hidup menikah.

Dulu aku mengira bekerja itu membahagiakan, namun ternyata, memang membahagiakan walaupun perjalanan dan intrik-intrik di dalamnya melelahkan.

Dulu aku mengira tidak bekerja itu menyenangkan. Cukup diam di rumah, santai2, tau2 pekerjaan rumah selesai dan makanan sudah dihidangkan. Namun ternyata tidak bekerja juga membuat frustasi.

Setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing. Kalau kita sudah mendapatkan yang kita mau, tidak jarang kita malah merindukan keadaan kita terdahulu. Intinya, bersyukur, bersyukur, bersyukur....

Tuesday, April 8, 2014

Konsultasi Pertama ....

ilustrasi konsultasi pertama (itu maksudnya muka bingung.. tapi jatuhnya kaya cewek kegenitan)

Tibalah saatnya hari ini,hehe. Setelah hari-hari sebelumnya penuh kecemasan dan pertimbangan untuk memeriksakan diri ke dokter, akhirnya saya dan suami pergi ke dokter kandungan ahli (in)fertilitas. Hari ini (26 Januari 2014) saya tepat mengalami mens hari kedua. Jadi hari ini saya bermaksud menelpon pihak RS Bunda Margonda untuk meminta jadwal dr. Dian Indah Purnama (DIP) hari ini. Usut punya usut, dr.DIP di hari senin jadwalnya jam 14.00-18.00 dan dia cuma nerima 20 pasien saja.Saat saya mengetahui hal tersebut, saya sudah masuk kantor, dan waktu menunjukkan pukul 9. Berarti saya hanya punya waktu maksimal sampai istirahat siang untuk mulai berangkat dari kantor.

Dengan sedikit panik saya men-chat suami saya. Membujuknya untuk ijin kantor dan menemani saya ke RS. Pasalnya, semua referensi yang saya dapat, menyarankan untuk menyertakan suami saat pemeriksaan infertilitas. Nah, hal ini memang dibenarkan oleh pakar. Begini penjelasannya menurut website ini,

Faktor suami memberikan kontribusi infertilitas sebesar 30% , istri sebesar 30%, suami dan istri 10%, dan sisanya 20% merupakan penyebab infertilitas yang tidak dapat dijelaskan, dimana dari hasil pemeriksaan medik pada pria maupun wanita didapatkan keduanya normal.
Nah, singkatnya, akhirnya saya dan suami langsung janjian naik kereta ke RS Bunda Margonda. Sesampainya di sana, kami mendaftar dan mendapat nomor 11. Setelah tunggu punya tunggu, jam 14 itu dokter DIP masih ada tindakan katanya.. err.. okay, akhirnya kami mengisi waktu dengan mengganti pembalut (saya), makan snack, beli minum (suami), ganti pembalut lagi..... Sampe jam 4 ga juga dateng dokternya. Heuu.. akhirnya suami tak tahan lagi dan akhirnya pergi mencari makanan. Apalagi ponsel kami sama2 mati keabisan batere. Kata anak gaul, mati hape=mati gaya. :D

Nah, beberapa saat setelah suami keluar, akhirnya saya dipanggil. Waduh, piye iki. bojoku nengdi? Panik sebentar namun tetap menguasai diri dong. Pikir saya, dia pergi cuma bentar. AKhirnya saya masuk dan bertemulah dengan dr. DIP. orangnya cantik sih, ramah, tapi raut lelah di wajahnya ga bisa disembunyikan. Saya ditanya mengenai usia saya, suami, usia pernikahan, apakah suami merokok/minum alkohol, siklus haid berapa hari.. Siklus haid ini maksudnya adalah berapa lama jarak antar mens hari pertama dengan berikutnya. Saya jawab, 30 hari. Lalu dr. DIP bilang, "oke, lulus kalo gitu. Kebanyakan pasien2 jawabnya kalao ditanya siklusnya brp hari, pada jawab berapa hari mereka biasanya haid" Geer dikit lah jadinya,hihihi. Lalu sampailah saya pada pemeriksaan USG transvaginal. sempet deg-degan. Malu juga, secara haid kedua itu kan.. banjir bandang, bo'.. aku minta maap sama susternya.. haduh..yah begitulah resiko jadi dokter n suster ya.. Nah, alat USGnya itu berbentuk lonjong panjang kaya.. apa yah..hihihi. Nah, alat asing itulah yang akhirnya masuk ke vagina, dari penampakan di layar, terlihat bahwa ada kista sebesar 1,3 cm di indung telur sebelah kanan saya. Rada panik juga.. Ternyata saya juga ada kista. Namun dr. DIP berusaha menenangkan dengan berkata bahwa kista ini bisa saja hilang. Dilihat saat periksa lagi. Kapan waktunya konsultasi berikutnya? Dia bilang bahwa saya harus melewati serangkaian tes terlebih dahulu untuk kemudian menentukan langkah selanjutnya. Itulah akhir dari konsultasi pertama saya yang akhirnya ga ada suami juga,heuu.. Ya ga apalah, at least dia udah usaha buat dateng walaupun pas pemeriksaan malah cari makan. -.-"

Tes-tes yang harus saya(+suami) lakukan adalah tes Histerosalpinografi (HSG), tes hormon prolaktin dan progresteron dan analisa sperma. HSG harus dilakukan di h+9, sementara tes hormon di H+22. tes sperma bebas asal ga berhubungan/ga mengeluarkan sperma selama 3-5 hari..

Fiuuhhh..
btw, ini totalan biaya konsultasi program hamil pertama di RS Bunda Margonda (harga per Januari 2014)

Konsultasi dokter spesialis        : Rp 125.000,-
Tindakan USG                           : Rp   50.000,-
Alat USG                                   : Rp 228.000,-
Biaya Umum RS                        : Rp   25.000,- (administrasi kali ya?)
Kondom Sutra                            : Rp     1.400,- (ini buat ngelapisin ujung alat USG transV yg masup ke vagina)

GRAND TOTAL                          Rp 429.400,-  

Alhamdulillah.. dicover sama asuransi kantor..mungkin karena faktor kistanya ya? blessing in disguise juga sih.. jadi ga usah berbohong agar asuransi bisa diklaim.

Oke segitu dulu ya.. apa mau dilanjut ke proses HSG dan hormon? hehe.. pas saya nulis ini sih, semuanya udah, hehe.. tapi biar seru, jadiin bersambung aja deh yah..

Thanks for reading ya.. keep on believing, keep fighting, keep du'a-ing :D

Wednesday, April 2, 2014

Kapan Waktunya Periksa ke Dokter Fertilitas?

sumber

Bismillah..

Bulan ini pernikahan saya memasuki usia 11 bulan. Genap sebulan lagi, akan tersemat kata-kata itu..infertilitas. (berdasarkan definisi menurut web ini ) Kesannya gimana banget ya, huhuhu.. Tapi begitulah keadaanya. Saya dulu pede banget sebelum nikah, mengira akan cepat hamil. Beberapa hari setelah nikah aja udah beli test-pack.. Setiap bulan menanti-nanti..jadi nggak yah,, Terus sok-sok ga jalan cepet2 atau minta suami jangan ngebut dan nerjang gundukan di jalan karena takut "ada dedenya". Pernah juga tuh salah perhitungan, harusnya haid setiap tanggal 25an, tapi ingetkan tanggal 17. Alhasil pas sampe tanggal 20 udah geer lagi..dan ketika tanggal 25nya haid..nangis heboh deh pas ditelpon Ibu..

Fiuhh, begitulah kira-kira, siklus bulanan saya, selain haid, juga ada fase2 bersedih. Mungkin sugesti juga sih kalau sedih menjelang dan selama menstruasi. Kecampur-campur sama PMS, jadi makin sedih. Selain itu biasanya di fase ini ada pertengkaran sama suami juga.

Saya memang sadar bahwa mood itu kita sendiri yang ciptakan,. bukan keadaan, tapi saya masih belum terbiasa dengan itu. Akhirnya dengan saran ibu saya, saya sendiri memposisikan mindset saya bahwa, "bulan ini saya menstruasi" agar saya tidak berharap terlalu tinggi. Namun, berdoa dan berusaha tetap wajib hukumnya.

Kebanyakan pendapat menyarankan agar pasangan yang belum dikaruniai anak memeriksakan diri ke dokter obsgyn  setelah setahun menikah. Namun ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa jika 3 bulan menikah belum ada tanda2 kehamilan, segeralah periksa, karena tiga bulan pun cukup menggambarkan bahwa ada yang 'salah di tubuh kita'.

Terserah pada keyakinan kita, namun saya pribadi akhirnya memeriksakan diri pada usia pernikahan ke-11, alias sekarang-sekarang ini. Hehe..

Sebenarnya saya prefer memeriksakan diri secepatnya beberapa bulan setelah menikah, namun saya terkendala banyak hal. Nggak banyak sih sebenernya, tapi signifikan. Apa sih, haha. Uang. Itu doang sih. Hehe. Program hamil itu ga murah lho, sodara-sodara. Periksa doang juga mahal. Nah, di sinilah saya baru merasakan keuntungan menjadi karyawan. Karena ada asuransi kesehatan tentunya. Namun tentunya juga gak bisa mengandalkan seratus persen asuransi sih, karena kebanyakan perusahaan tidak menyertakan problem infertilitas termasuk dalam benefit asuransi.

Okay, untuk memilih dokter spesialis (in)fertilitas ini saya mencari-cari di internet, kaya biasa, hehe. Saya pilih terutama yang dekat rumah, yaitu Depok. Nah di Depok ini, klinik fertilitas yang saya tahu (dan terlihat keren di mata saya,hehe) yaitu RS Bunda. Hal ini dikarenakan (ampun bahasanyaaa) di RS Bunda itu emang ada klinik khusu bayi tabung berjudul "IVF Morula". Soo, I conclude that the hospital has a specialty to infertility treatment..

Dokternya siapa? karena suami wanti-wanti harus cewek dokternya, jadilah hanya ada dua pilihan. dr. Dian Indah Purnama dan dr. Mira Myrnawati. Yang mana akhirnya saya pilih dr. Dian karena setelah googling, nama dia lebih populer. Which is kalau dia lebih populer, pengalaman dan success story-nya lebih banyak. Ya kan? ya doong (semoga). Tambahan lagi, si dokter ini ternyata punya akun twitter yang lumayan aktif (apeeuu).

Akhirnya, setelah memutuskan dokter dan RSnya, saatnya sekaranglah untuk daftaaarr.. Saya menghubungi pihak RS, ngobrol-ngobrol dengan susternya (susternya lumayan smart dan komunikatif), dan akhirnya dia membenarkan jika emang kebanyakan pasien program hamil perginya ke dokter Dian. (tuh kan bener feeling sayaaah) Si suster juga menyebutkan bahwa saat konsultasi, sebaiknya saat mens hari kedua.. Ternyata eh ternyata, hal ini disebakan karena penyakit-penyakit/kelainan dalam rahim bisa tuntas terlihat pada saat menstruasi. Mungkin disebabkan hormon yah.. but i don't exactly know what's the reason actually..

Cerita-cerita detail tentang pemeriksaan saya diceritain di posting berikutnya yaa, Insya Allah.. keep on believing, keep du'a-ing :D