Saturday, September 25, 2021

Cek-cek Ombak

Dengan rekomendasi akhir untuk laparoskopi, maka saya pun mulai mencari-cari informasi tentang biaya dan hubungannya dengan asuransi. Kemarin2 dr Mira sempet spill biaya laparoskopi itu 50jutaan sih. Mayan banget kalau semuanya dari kantong pribadi, ya kan? Makanya kita cari tau apakah biaya segitu akan diganti oleh pihak asuransi kantor (suami). 

Maka dimulailah proses pencarian informasi itu. Saya sempet tanya ke RS bunda pusat di Menteng. Namun ketika mereka tahu jika saya mau tindakan di Bunda Margonda. Ya udah katanya saya disuruh hubungi RS Bunda Margonda aja. Oke.. 

Jadi judulnya emang harus kembali ke laptop hihihi..  Telpon RS Bunda Margonda tanya sana sini. Dari mulai bagian informasi biasa, kasir, sampe kasir rawat inap juga dijabanin. Singkat ceritahh, akhirnya disuruh konsul dulu ke dokter untuk pengajuan pre admission. Melalui proses inilah baru kejelasan penanggungan biaya laparoskopi bisa ditanyakan ke pihak asuransi. 

Jadilah saya konsul ke dr Mira di Bunda..  FYI sekarang kalau mau konsul dokter di Bunda harus swab antigen negatif juga gaes. Teruus... saya langsung dijadwalin laparoskopi untuk selanjutnya diajukan pre admission ke asuransi.

Pada saat bertemu, saya menanyakan beberapa hal pada dr Mira.  Saya tanya.. Mengapa harus laparoskopi, apa tidak bisa operasi biasa saja. Pertanyaan ini saya maksudkan agar peluang dicover asuransi besar. Beliau jawab, jika memang mau promil tidak bisa operasi biasa. Kalau hanya nyeri saja seperti yg saya alami memang bisa aja dibedah biasa. Tapi bisa aja pascaoperasi malah terjadi perlengketan sebagai respon tubuh alami saat penyembuhan luka. Nah hal ini yang dihindari karena dapat mengganggu program hamil ke depannya. Jadi mau ga mau memang laparoskopi menjadi solusi utama permasalahan kita. (masalah lu aja kali ekekek) 

Setelah konsul beliau kasih banyak berkas2 kaya formulir rawat inap, surat pengantar cek lab dan PCR,  cek AMH dan pengantar ke dr anestesi. Hal pertama yang saya lakukan yakni tes AMH. Tes AMH tuh kata dr Mira untuk mengetahui cadangan sel telur dalam tubuh kita. Jadi nanti akan diobservasi kadar sel telur ini pada saat sebelum laparoskopi dan sesudahnya.. 

Keluar dari ruang praktek,  sayapun mulai bergerak mengikuti prosedur yang telah ditentukan. Saya tes AMH saat itu juga biar ga bolak balik. Terus saya menyerahkan form permintaan rawat inap ke bagian informasi rawat inap. Kemudian mereka bilang jika nanti akan diinfokan jika sudah ada konfirmasi dari asuransi. Baiklah kemudian saya pulang, menunggu dan akhirnya beberapa hari kemudian... 

 

Friday, August 13, 2021

Jadwal Cek Telur tapi Ujung2nya Ga Bahas Telur 😝

Cek telur dijadwalkan dokter di hari ke 11-12 setelah haid keluar. Atau saat sedang ovulasi/masa subur. Jadi pada hari itu saya kembali ke Ovarya sekalian konsultasi hasil HSG. 

Pertama masuk langsung ngadu ke dokter kalau HSG rasanya nyeri. Wkwk..  Terus lanjut periksa dalam. Sewaktu USG akhirnya ketemulah yang selama ini menjadi dalang atas nyeri perut bawah + yang buat suka ada perdarahan di tengah2 siklus: polyp. 

Polip. 
This is what we discovered yesterday. 
Setelah beberapa kali hasil USG "bersih"..sekarang baru keliatan tuh polyp. Bersyukur juga akhirnya ketemu akar masalahnya. Karena sakit ini kalau diingat2 ada sejak saya SMA. Dokter juga tanya, pernah ga berdarah di luar siklus haid. Ohya pernah banget, dok. Dulu sampe saya konsul ke dr Shinta. Ujar saya. Terus dokter Mira menambahkan, "itu memang gejala khas polyp"

Balik ke meja konsultasi setelah di USG, alih-alih lanjut inseminasi, dr Mira menyarankan kepada saya untuk melakukan tindakan laparoskopi. Ya, laparoskopi seperti yang dahulu pernah dr DIP sarankan. Laparoskopi yang dulu sempat menghentikan langkah saya promil. 

Dr Mira berujar, laparoskopi merupakan hal yang ideal untuk dilakukan untuk kasus seperti saya untuk membersihkan polip dan endometriosis yang ada di rahim. Polip jika dibiarkan akan mengganggu janin menempel di dinding rahim (atau semacam itu lah aku lupa detailnya). Jadi jika inseminasi tetap dilakukan, kemungkinan berhasil akan mengecil. Kemudian saya tanya, dengan biaya yang besar, apakah ada riwayat pasien dokter yang bisa laparoskopi dengan biaya ditanggung asuransi. Beliau jawab tidak ada. 

Bahasan ini memang jadi diskusi yang alot ya.. Karena UUD alias ujung2nya duid. Tapi bagaimana lagi, daripada menghabiskan waktu dan uang untuk terapi alternatif lagi, sepertinya kami memang harus menerima kenyataan bahwa laparoskopi memang ikhtiar yang memang sepatutnya dicoba. 

Setelah itu dr Mira menasihati saya untuk mempersiapkan diri. Maksudnya memang mempersiapkan diri untuk laparoskopi. Dengan rencana tindakan yang lebih terstruktur ini harapannya doa kami bisa terkabul.. Dapat hamil baik dengan melalui laparoskopi, maupun dengan cara alami (berharap kan boleh yaa). Nah jika ingin laparoskopi tentunya dengan cara menabung.

Mengingat usia pernikahan yang sudah lama, beliau juga sempat menyesali, dulu kenapa pas disuruh dr Dian laparoskopi ga langsung nabung? 

Wawawawwww
Ga tau kenapa ya ini jadi semacam wake up call buat aku. Ada benernya juga apa yang dibilang dr Mira. Saya merasa beberapa tahun ini ga ada arah gitu. Gonta ganti dokter dengan dalih mencari second opinion.. Padahal saya sudah dikasih solusi dari "tempat yang tepat, oleh orang yang tepat", jika boleh mengutip perkataan dr Mira.

Ngapain dulu aku ga langsung nabung?  Malah denial dan cari second, bahkan forth opinion ke 3 dokter yang berbeda. Tapi aku tersadar lagi karena menurutku hal itu wajar..  Dan kita kan ga boleh menyesali yang sudah lewat kan..  Ditambah lagi aku sadar juga sih tekadku belum sekuat sekarang.

Omong-omong, apa memangnya yang membuat saya sekarang bertekad untuk mengharapkan anak? 

Selain biaya promil yang mahal, dulu sepertinya tekadku untuk memiliki anak selalu "digembosi" dengan bisikan-bisikan "emang siap kalau punya anak? ". Saya selalu dibayangi ketakutan dengan konsekuensi-konsekuensi memiliki anak. Tapi sekarang pas udah sedikit paham... Saya belajar kalau semua keadaan akan ada up and down nya kan.. Mau bagaimanapun keadaan kita.

Selain hal utama di atas, ada beberapa pertimbangan lain yang juga memantapkan langkah saya diantaranya, 

1. Doa memohon anak ada di Al Qur'an dan merupakan merupakan permintaan para nabi. Menurutku di dua poin inilah yang menjadikan permintaan akan anak menjadi sesuatu yang penting. Poin pertama, doa itu diajarkan Nabi, yang mana termasuk orang terbaik.  Poin kedua, doa itu diabadikan di kitab terbaik, yang merupakan kalam Ilahi. Jadi, sudah sepatutnya kita contoh, bukan? 

2. Hal ini merupakan wasilah kita untuk terus berdoa. Untuk terus bergantung pada Allah. Untuk selalu mengaitkan hati pada Allah. Untuk dekat dgn Allah 
(ini saya ga tau sih konteksnya bener2 pas sama yang saya maksud atau tidak) 

3. Anak merupakan sarana amal jariyah yang luar biasa. 
Kan ada tiga perkara yang tidak akan putus meskipun kita mati tuh. Ilmu yang bermanfaat, doa anak sholih, amal jariyah. Nah, dengan memiliki anak kita berkesempatan untuk mendapatkan ketiga poin di atas. 

4. Kita diperintahkan untuk semangat dalam memgejar sesuatu yang bermanfaat untuk kita 

Segitu aja buat sekarang ya..  Doain ya semoga saya mendapat pengobatan terbaik, semoga tercapai untuk laparoskopi, semoga endometriosis dan polip saya bisa sembuh, semoga saya bisa dapet anak soleh solehah..  Jadi kan bisa ada bahan lagi untuk apdet blog ini wkwkkw 






Wednesday, July 28, 2021

TES HSG EPISODE 2

*capslock jebol wkwkwk*

Emosi banget nih kayaknya.. Nulis judul sampe kek gitu. Lah iya memang efeknya dahsyat memanggg. 

Jadi kemarin jadi deh saya tes HSG. Karena Ovarya nggak ada bagian radiologi akhirnya tes dirujuk ke RS Bunda. Deja vu dong yaa..  Masuk ke ruang yang sama seperti 7 tahun lalu. Bedanya dulu TV itu nayangin video klipnya MLTR, sekarang nayangin infotainment wkwk.. *iya senempel itu ingatan saya mengenai tempat bersejarah ini*

Sebelumnya saya juga memang sudah mempersiapkan diri dengan baca ulang thread HSG episod awal di sini. Saya juga udah berdoa dari awal disuruh dokter tes HSG ulang. Saya sampe WA ke ortu dan mertua buat minta kelancaran saat tes ini..  Segitunya karena saya ingat dulu abis tes ini.. Saya merasakan nyeri yang mayaan.. 

Sampai akhirnya hari itu datang.. Saya ke Bunda dengan prosedur lengkap di awal. Screening covid dan ke bagian pendaftaran smabil nunjukin surat rujukan dan kwitansi pembayaran dari Ovarya (saya udah bayar di Ovarya sebelumnya pas konsul pertama) Setelah ke bagian pendaftaran saya turun ke basement ke bagian radiologi. Kemudian di sana antri bentar dan disuruh minum pain killer. Saya pakai paracetamol.

Sebelum tindakan terlebih dulu dokter radiologinya menjelaskan prosedur HSG ke saya. Dia bilang kalau nanti ada cairan kontras yang dimasukkan ke dalam untuk melihat apakah salurannya "paten",dan beliau menambahkan seperti ini "efek samping dari HSG berbeda di sebagian orang. Ada yang nyeri (biasa)  atau ada yang sampai mual, muntah bahkan pingsan. Obat anti nyerinya bisa diminum lagi setelah 6 jam kalau memang masih sakit. Setelah tindakan juga ada flek-flek yang keluar bersamaan dengan betadine. Flek ini wajar jika keluar hingga 4 hari. Jika dalam 5 hari belum berhenti boleh konsultasi pada dokter kandungan atau ke saya."

Dalam hati, 
Oke deh qaqaa

Terus diminta berganti pakaian operasi yang belakangnya bolong itu dan disuruh melepaskan semua kecuali masker dan bra. Tapi kaos kaki diperbolehkan juga sih pas saya tanya. *tips: pakai kaos kaki soalnya ruangannya dingin.. Bednya juga dingin

Dimulai dengan dokter mengoles betadine di sekitar miss V dan akhirnya dimulailah pemasangan kateter. Jujur saya merasa tidak terlalu sakit. Masih lebih sakit USG transV. Alhamdulillah.

Kemudian setelah itu, foto rontgen diambil saat posisi tidur terlentang, saat cairan kontras disemprotkan, saat posisi badan miring kanan dan miring kiri. Setelah itu selang dilepas dan kita disuruh berpakaian lagi. Lalu disuruh untuk BAK. Terakhir diambil foto lagi saat udah balik dari toilet. That's it. 

Abis itu disuruh nunggu sejam untuk dapetin hasilnya. Tapi saya memutuskan untuk pulang dulu karena takut keburu sakit. Lagian dokternya waktu itu lagi ada tindakan operasi jadi mungkin nunggunya bisa sejam lebih.

Akhirnya baru hari ini saya ambil hasil HSGnya..  Tapi saya ga ngerti cara bacanya walaupun hasilnya udh di tangan. Jadi rencananya besok pas cek telur dibawa hasil rontgen ini buat dibaca ama dr. Mira.. InsyaAllah.. 

Hari ini juga tes swab antigen di klinik deket rumah untuk persiapan ke Klinik Ovarya lagi besok. 

Ohya, aku udah bayar tes ini di Ovarya ini sebesar 1,25 juta  jadi pas di Bunda cuma nambahin aja 8ribu.   Lupa buat apa wkwkkw.. 

Sekian quick update dari saya.. Bubye

Ohya lupa.. Efek HSG di saya nyeri sama bloating gitu. Begah dan kembung.. Nah.. Ini yang saya liat kayanya memang gejala endometriosis deh.. Hmm..  Will talk 'bout it later to dr Mira


 (ini dr IG dr Mira) 

Monday, July 26, 2021

Untuk yang Sudah Baca Blog Ini dan yang Sudah Beri Komentar

...saya ucapkan terima kasih banyak yahh 😘

Ohya maaf juga saya agak susah balas komentarnya..  Karena saya suka lupa password akun blogger saya yang ini.. 

Maklum ya second account..apdetnya kalau memang lagi mulai promil lagi..
 Untungnya di aplikasi blogger di HP dan push e mail masih bisa log in tanpa harus input password. 

Jadi kalau mau ada yang ditanyain urgent bisa langsung kirim e mail ke istrishalihahh@gmail.com ya.. 

bubyee


Thursday, July 22, 2021

Update Promil 2021

Bismillahirrahmaanirrahiim 

Holaa pejuang dua garis kesayangann! 
Jumpa lagi sama Istri Shalihah nih.. Gimana kalau kita singkat aja jadi Trisha? Wkwkwk *auk ah

Alhamdulillah setelah bertahun-tahun lamanya tidak mengunjungi dokter untuk program hamil, saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk kembali berikhtiar. Sebenarnya setelah pandemi sekitar bulan April 2020,  ada ikhtiar lagi ke tabib yang dulu pernah nanganin kami di kantor lama suami. Dia metodenya totok gitu. Setelah diperiksa katanya rahim saya bersih, semua bagus, tapi katanya rahimnya saya memiliki keasaman yang tinggi. Jadi saya disuruh rutin totok seminggu sekali dan juga mengonsumsi tomat yang dikuliti sebanyak 3 buah. 

Tapi ternyata pas dijalani rada susah.. Terus juga dia pernah menjanjikan bahwa bulan kedua InsyaAllah saya sudah hamil. Sebenarnya kami juga tidak percaya sepenuhnya ya karena itu kan cuma prediksi manusia. Namun ternyata belum hamil juga..  Maka perlahan kami pun tidak lagi datang kepada beliau. Selain karena hal tersebut, kayaknya kami ga lagi sanggup buat bayarnya deh..  Jadi budget ke sana 200 rb per orang.. Jadi kalau berdua suami, seminggunya jadi 400ribu. Mayan kan wkwk 

Setelah itu off deh..  Perasaan saya gimana? Gimana ya..  Jujur ya masih on off juga bapernya..  Walaupun efeknya ga sedahsyat dulu. Hati masih tercekat saat mendengar ada saudara/teman/kenalan yang hamil.. Tapi selebihnya fine.. 

Tapi one day, entah kenapa saat mendengar salah seorang teman hamil saya jadi auto ngembeng. Kali ini beda karena teman saya itu berhasil hamil karena program inseminasi. 

Gimana ya.. Bukan karena saya iri. Eh..  Ya mungkin nangis juga penyebabnya ada rasa iri sedikit..  Tapi kalau dipikir..  Emosi yang ada saat itu tuh kayak mixed feeling gitu. Ada seneng karena denger berita baik, iri, pluuss ada guilty feeling karena aku merasa tak cukup berusaha. 

(Ya.. Sekarang aku berusaha untuk memvalidasi setiap emosi yang aku rasakan. Itu semua menurut aku wajar dan ga bikin kita jadi bad person because we're crying over someone's joy. )

Aku jadi meresapi emosi itu dan akhirnya berpikir.. Ya benar aku kayaknya kurang ikhtiar. Tapi dari segi doa deh.. Karena yang bisa aku lakukan sebagai istri yang tidak bekerja itu ya doa. Aku bukan sebagai pemegang kuasa. Terlebih memang aku tahu bahwa kemampuan finansial kami tidak mencukupi untuk berikhtiar dalam segi medis. 

But then one miracle comes. Kantor lama suami memberikan bonus dengan nominal yang lumayan banyak. 
Suami bertanya..  Apa yang ingin saya beli? Saya ga kepikiran apa-apa. Cuma saya pengen aja membiayai hidup sehari2 dengan budget yang lebih longgar sambil sesekali membantu teman dan saudara yang  sedang terdampak covid...

Udah

Setelahnya saya baru mikir.. Eh kenapa ga bilang aja pengen program hamil ya? Qadarallah... Ya udahlah..  Mintanya sama Allah aja.. Soalnya ga lucu kalau tiba2 bilang,  "eh gimana kalau kita pake uangnya buat promil" 

Tapiiiiii Alhamdulillah Allah mendengar doaku dan membisikkan ilham pada suamiku sehingga pada suatu hari dia bilang.. " Ayang gapapa loh kalau mau ke dokter lagi?  " kujawab,  "maksudnya?  Program hamil? " dan dia jawab iyaa😭😭😭

MasyaAllah kebayang ga senengnya... 
*brb sujud syukur

Pikiran saya langsung tertuju kepada Klinik Ovarya, klinik yang menjadi wasilah keberhasilan program inseminasi teman yang saya sudah sebut sebelumnya itu. Ada setidaknya tiga hal yang membuat saya tertarik mengunjungi klinik ini. Pertama tentunya karena saya sudah mendengar success story dari teman. Kemudian saya juga tertarik karena lokasinya relatif lebih dekat. Ketiga karena mengunjungi klinik sepertinya akan lebih aman dibanding RS umum. Hal ini disebabkan kasus positif covid sedang marak saat ini. Terlebih klinik ini mengkhususkan pada program hamil.. Jadi saya pikir, pengunjungnya tentunya tidak sebanyak seperti di RS. 

Setelah konfirmasi kedatangan di hari sebelumnya, saya diinstruksikan untuk menjalani tes swab antigen. Baiklah..  Gapapa semoga Allah mampukan untuk semua biayanya. 

Ada beberapa syarat ya sebelum datang untuk konsultasi di Klinik Ovarya. Berikut daftarnya,


...

Dan singkat cerita, saya akhirnya datang ke Klinik Ovarya dengan hasil swab antigen negatif. ❤

Akhirnya tibalah saat pemeriksaan dokter. Kami disuruh buang air kecil sebelum masuk ruangan praktek. Di dalam saya bertemu dokter Mira.. Ya dr. Mira Myrnawati. Ini bukan kali pertama saya bertemu dengan beliau. Dulu saya pernah mengecek telur bersama dr Mira sewaktu dokter yang menangani saya off. 

Saya kaget ternyata yang punya Klinik Ovarya dokter di Bunda juga..  MasyaAllah..  

Hasil konsultasi perdana di Ovarya Klinik menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Saya sangat direkomendasikan untuk 
•HSG ulang
•Analisa sperma ulang
Karena terakhir periksa udah luama banget. 

2. Dari hasil tes tersebut akan menjadi patokan langkah yang selanjutnya harus ditempuh.  

3. Kalau dilihat pas USG memang bersih tapi kita tidak tahu gimana persisnya. Karena kista (endometriosis) itu bisa ada manifestasi di tempat-tempat lain. Dan memang 30-50% kasus endometriosis menyebabkan infertilitas. Jadi harus HSG ulang untuk melihat ada tidaknya perlengketan atau kemungkinan adenomiosis.  

4. Nanti jika hasil HSG dan analisis sperma bagus akan dilanjut ke tahap inseminasi. Namun jika belum bagus akan ditangani dulu masalahnya. Kalau memang terjadi perlengketan maka akan dilakukan tindakan laparoskopi. 

5. Di masa subur (sekitar tgl 28/29) harus konsultasi lagi ngecek telur. 

Gitu siihh

Akhirnya saya langsung didaftarkan untuk HSG. Tindakan HSG ga dilakukan di klinik melainkan di RS Bunda. Mungkin klinik ini afiliasi dengan RS Bunda ya. Ekwk.. Sotoy.. 

InsyaAllah tgl 27 HSG.. semoga ga sakit..  Alhamdulillah dulu udah pernah nulis tentang HSG jadi bisa tau gambarannya kaya apa.. Ohya.. Kata suster sebelum HSG disuruh minum obat nyeri (one hour in advance)  bawa pembalut,  sama cukuran di area V untuk memudahkan pemeriksaan. 

Sekarang disuruh minum pain killer ....dulu mah... 😭😭

Oke segitu dulu ya bun buat sekarang.. Will update soon, InsyaAllah 


Saturday, June 19, 2021

update promil 2018

Lanjut ya cerita ke dr Shinta Utami 

Jadi waktu itu dia bilang, di pertengahan siklus itu harusnya rahimnya bersih. Tapi dia lihat dinding rahim saya masih tebal. Dia bilang saya ada masalah hormon. 
 (saya nyimpulin sendiri.. Apa hormon ga seimbang ya?  Terus browsing2 ttg penanganan hormon ga seimbang hrs batasin konsumsi tepung, gula, kedelai..  Ga sanggup mak.. Cm sanggup batesin olahan kedelai aja ky tempe tahu..) 

Terus dia resepin obat dan suruh saya balik satu atau dua pekan setelahnya. 
Pas balik Alhamdulillah udh bersih. Terus tanpa ditanya, dia menyinggung masalah saya belum hamil. 

Terus dia bilang..  Kalau di sini belum ada alat yang bisa untuk periksa lebih lanjut.. Ga kaya di RS Bunda...
Jengjengjeng
Ga disangka dese juga praktek di RS Bunda sis 😁 masyaAllah 

Kaget bgt aku tapi ga bisa berbuat apa2 juga karena memang kita lagi ga berniat utk program lagi. (masalah klasik apalagi kalau bukan uwit) 

Ya udahlah.. 

Eh tapi ada kejadian aneh satu lagi.. 
Jadi waktu itu ada tetangga lahiran.. Dia juga dapet anak lama. Karena waktu itu saya jadi pengurus kumpulan ibu2 jadi saya sempet jenguk dia dan ngobrol lama. Dia cerita dong ternyata di program hamil di dr Shinta 😭😭😭 pengen nangis ga sih kok bisa kebetulan begini... 

Sambil dia eager aku untuk someday kalau promil lagi ganti aja ke dr Shinta karena beliau sat set sat set

Itu 2018

Sekarang 2021 saya catch up blog ini lagi karena InsyaAllah Senin besok mau ke dr Shinta 😍😍😍😍

Berhubung buku merah (yg mencatat dokumentasi perawatan selama di RS BUNDA)  masih ketelingsut entah di mana..  Akhirnya saya uplek ke blog nyari2 catetan 'perjalanan' promil saya takut ditanyain.. 

Semoga semua lancar, ga nyasar ga lama nunggunya aamiinn

Updated:
Alhamdulillah ini baru aja keluar dr ruangan dokter. Ga nyasar dan kesiangan.  Alhamdulillah 

Jadi kenapa saya balik ke SPOG itu karena saya ngerasa nyeri di bagian perut bawah sebelah kanan. Dan di awal2 mens tuh berasa ngejendol gitu. Sebenernya nyerinya masih berasa wajar karena sebelum2nya pun begitu. Tapi kali ini suami pas ada di rumah pas wajah2 saya mengernyit gitu nahan sakit  jadi akhirnya dia nyuruh saya periksa.

Tadinya saya pengennya ke RS Mitra Keluarga (RSMK)  aja karena aksesnya lebih mudah. Qadarallah saya anaknya emang suka nervous kalau masalah jalan. LOL

Tapi karena sekarang kasus COVID19 lagi merebak lagi suami suggest di RS Bunda..  Okelah

Akhirnya hari Senin ke Bunda..  Masuk langsung discreening. Trus daftar dan Alhamdulillah langsung dipanggil karena saya pasien pertama. Kata dokter Shinta rahimnya bersih ga ada tumor gada kista. 
Aku tanya kok sakit di perut kanan bawah? 
Bs jadi karena pas haid emg ada kontraksi rahim. 
Terus dia suggest utk ke dr bedah karena bs jadi perut kanan bawah itu usus buntu. 

Alhamdulillahirobbil 'alamiin
Lega sih ternyata rahimku bersih..  Cuma buat saat ini saya belum ada rencana ke dokter bedah dulu karena sakitnya udah reda.. Balik lagi karena C19 juga..  Serem euy Depok dah zona merah. 

Terus juga ini saya nemuin benjolan kecil di ketiak.. Qadarallah...  

Sangat berharap semuanya baik-baik aja ga kenapa napa... 

Aamiin ❤

Bismillah.. Memulai Lagi

Bismillahirrohmaanirrohiim

Tadinya mau dijudulin recent update tapi kok kayaknya ga kreatif banget ya kasih judul.  Haha. Baiklah diganti jadi judul di atas.  Ya,  hari ini saya kembali berikhtiar dengan mengunjungi kembali RS ini,  dokter ini.

Setelah terakhir coba ikhtiar akupunktur sekitar tahun 2015.. Sekarang Alhamdulillah saya berkesempatan lagi untuk mencoba. Kali ini secara medis.

Kunjungan ke dokter Spog sebenernya ga bener2 berhenti sih.  Saya tahun 2016 sempet cek ke dr DIP.. Waktu itu inget abis ada rezeki.. Terus suami bilang. Ayo promil lagi..  MasyaAllah seneng heheh.. 

Semangat lah ke Bunda...

Pas itu dr DIP bilang kalo endometriosis saya yang sebelah kanan Alhamdulillah menghilang. Beliau tanya..  Berobat apa kok bisa ilang endometriosisnya? Aku jawab.. Apa karena akupunktur itu ya?  Trus beliau mendeteksi ada endometriosis di rahim sebelah kiri..  Tapi Alhamdulillah kecil cuma 0.9 cm. Alhamdulillah ...

Terakhir dokter DIP nyaranin.. Kalau udah ilang gini endo nya coba kita promil alami aja... Siapa tahu bisa hamil tanpa treatment macam2. . Terus beliau bilang,  kalau belum berhasil juga kontrol lagi di hari ke 2-5 haid.   Okeh manutt

Beliau cuma resepin vitamin aja asam folat merk Folavit.. Diminum tiap hari. 

Dua minggu berlalu.. Folavit resep dokter abis. Trus tanya suami.. Beli lagi apa?  Jawab suami,  "lanjutkan," hahah

Beli Folavit kedua kalinya Qadarallah belum juga halim.. Sementara budget promil dah gatau kmn larinya 😅😅 jadi ya udin kita chill lagi. 

Time went by.. Saya sibuk ini itu,  a.k.a jadi ibu2 komplek rempongs hahah..

Sampailah pada Juli - Agustus 2018 saya ada keluar darah di luar masa haid.  Saat itu suami langsung menyuruh saya untuk periksa. Yaudin langsung saya ceki ceki RS yang deket.  Gasanggup kalo harus ke Bunda Margonda hiks hiks.  Gasanggup antrinya. Akhirnya setelah cari2 saya memutuskan untuk ke dokter Shinta Utami di RS Bunda Aliyah. Bunda Aliyah ini RS baru dan ga sejauh ke Bunda Margonda. Pasiennya masih dikit kayaknya.  Soalnya seinget saya,  dulu sama ditelpon untuk mastiin saya jadi dateng atau ngga. Dan bener setelah sampai ga pake nunggu lama sayapun dipanggil.

Pas udah di dalem,  saya ketemu deh sama dokter Shinta.

Bersambung.... 

Sunday, April 24, 2016

Tentang Optimisme

Belum hamil saat usia pernikahan telah 3 tahun bisa menjadi masalah tersendiri bagi pasangan menikah, termasuk saya. Walaupun tekanan sosial tidak terlalu besar, sebagian dari diri saya tetap menginginkan hadirnya buah hati. Setiap melihat orang hamil suka merinding. Kalo lihat bayi rasanya hati mencelos.

Sebenarnya saat awal pernikahan saya sudah menyiapkan mental jika belum dikaruniai anak. Persiapan itu contohnya diwujudkan dengan mengikuti seminar infertilitas. Walaupun begitu, saya tetap merasa terkejut ketika belum kunjung diberi karunia kehamilan.

Di satu sisi saya merasa hal ini bukan merupakan masalah serius, namun di sisi lain, terkadang susah juga mengacuhkan perasaan memiliki seperti ini.

Hingga akhirnya di 11 bulan usia pernikahan, kami memeriksakan diri ke dokter ahli infertilitas. Saat itu dokter memeriksa saya dan ternyata di rahim saya ditemukan adanya Endometriosis. Sejak 'divonis' inilah yang menyebabkan saya akhirnya membagi cerita ke dalam media blog. Blog ini sengaja saya buat berbeda dengan yang selama ini saya miliki. Saya buat lagi dengan alamat yang berbeda agar saya bisa lebih bebas bercerita. Identitaspun saya sembunyikan.. bukan buat gaya-gayaan sih, justru karena saya ingin lebih ekspresif dalam bercerita. Apalagi yang dibahas kan masalah reproduksi yaa..

Tapi di samping itu, saya berharap sih blog ini bermanfaat dan pembacanya tidak fokus ke personal penulisnya. Alhamdulillah saya syukuri hingga sekarang, total tayangan lamannya melebihi ekspektasi saya. Sebagai bandingan, blog pertama saya yang sudah ada sejak tahun 2009 saya hitsnya 'hanya' 5000an. Sementara blog ini terbaca mencapai 25.000 dalam waktu 2 tahun saja.

Yang menggembirakan lagi, setiap saya mengetik "Dokter Spesialis Infertilitas di Depok" di mesin pencarian Google, blog saya berada di urutan teratas. Hal ini jauh melebihi ekspektasi saya saat sebelum membuat blog ini. Tapi jujur sih dalam pemilihan judul postingan, saya memang sengaja menggunakan bahasa baku.

Begitulah.. semoga Tuhan selalu meluruskan niat saya untuk membagi pengalaman dengan pasangan-pasangan lain yang belum memiliki anak. Semoga pembaca merasa memiliki teman yang senasib. Juga semoga referensi-referensi yang hadir di setiap postingan blog ini bisa menjadi solusi dan akhir dari penantian teman-teman.

Salam hangat,

Istri Shalihah (Insyaa Alloh)

Ps: doain biar lebih rajin posting yah

Sunday, September 27, 2015

Ikhtiar Hamil

"Mbak hamil ya mbak, sini duduk mbak," pintanya kepadaku yang memang sedang berdiri di gerbong wanita commuter line.

"Nggak mbak, aku nggak hamil." Jawabku singkat. Tapi tak jarang beberapa yang mengira aku hamil tetap mempersilakan aku duduk menggantikannya. Ya sudahlah, rezeki, alhamdulillah. He he he

Entah sudah berapa banyak wanita yang berkata demikian kepadaku. Semuanya mengira aku adalah ibu hamil yang harus diprioritaskan. Aku tentu sangat maklum, sejak menikah hampir 3 tahun silam berat badanku naik 10 kg dari sebelumnya 58 kg. Mungkin gara-gara ini aku jadi terlihat lebar dan endut seperti bumil, ibu hamil.

Disatu sisi, aku tetap bersyukur, meski badanku naik dari kelas bulu jadi kelas walter kalau di dunia tinju, hahaha..Ini kan artinya, Allah masih mencukupi makan dan minumku. Namun disisi lain, aku tak dapat menutupi perasaanku atas banyaknya pertanyaan seputar hamil, hamil dan hamil.

Ya, jangan tanya, aku juga pasti bersedih. Namanya juga wanita, yang kebanyakan perasaannya lebih dominan dibandingkan logikanya. Namun demikian, prasangka baik mereka kalau aku hamil, pertanyaan mereka, aku anggap saja sebagai doa. Ya Allah kabulkanlah permohonan kami. Amin.

Tentu, aku dan sumami pasti merindukan kehadiran si buah hati. Namun demikian, disinilah, kami semakin sadar, kami adalah hamba yang lemah dan Allah-lah Sang Pencipta, Allah-lah Sang Produser, Sang Penulis skenario kehidupan.

Kami hanya bisa berusaha. Berbagai upaya medis juga sudah coba kami jalani, mulai dari dokter sampai alternatif. Beragam asupan mulai dari obat hormon hingga herbal juga sudah pernah dicoba. Aku juga sudah lama resign dari pekerjaanku, supaya lebih santai dan tidak stres, barangkali aku jadi bisa hamil. Tetapi kembali lagi, ya inilah takdir. Secanggih apapun teknologi, seterkenal apapun dokter yang menangani, sehebat apapun tabib alternatif. La haula wa la quwwata illa billah, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

Selain bercerita dalam doa kepada Yang Maha Kuasa. Sudah sejak awal tahun 2014 aku juga bercerita, berbagi kisah melalui blog ini. Aku tulis di colour note ponsel pintarku yang sudah seperti smartfren bagiku, aku upload di aplikasi bloggerku. Aku ingin seperti Emak Gaoel yang punya teman bercerita, karena aku yakin aku bukanlah wanita pertama yang juga menjalani ikhtiar hamil sepertiku. Aku hanya ingin menulis dan berbagi bersama mereka. Ya mereka, mereka yang berikhtiar hamil, sama sepertiku.

Alhamdulillah aku syukuri hingga sekarang, total tayangan lamannya melebihi ekspektasi. Sebagai bandingan, blog pertamaku yang sudah ada sejak tahun 2009, hitsnya baru 5000-an. Sementara blog ini sudah dibaca hampir 12 ribuan hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun, itupun aku jarang mempromosikannya. Yang juga menggembirakan, setiap mengetik "Dokter Spesialis Infertilitas Depok", mesin pencarian Google sudah mengenalnya. Ah tapi, keterkenalan bukan itu niatanku.

Semoga Tuhan selalu meluruskan niat utamaku untuk terus menulis di blog ini dan berbagi kebahagiaan meski aku dan para pembacanya belum juga dikaruniai si buah hati. Go for it.
Go For It Blog Competition

Monday, September 14, 2015

Mencari Second Opinion

Bismillah

Karena merasa stuck dengan solusi yang ditawarkan dokter DIP untuk laparoscopy, akhirnya saya terpikir untuk meminta opini dari dokter kandungan lain. Ga tanggung-tanggung ada 3 dokter yang saya datangi untuk berkonsultasi..

1. Dr. Lisdayanti, Sp.OG
Dokter yang saya pilih yaitu dr. Lisdayanti dari RS Mitra Keluarga. Latar belakang berkonsultasi ke dr. Lisda adalah sewaktu awal menikah, saya sempat mengikuti seminar infertilitas dan beliau adalah salah satu pembicaranya. Saya pergi ke dr. Lisda sebelum dr. DIP kasih solusi laparoskopi. Jadi karena kebetulan lagi pulang kampung, saya menyempatkan diri untuk berkonsultasi dengan dr.Lisda yang memang ahli infertilitas.

Antrian di dr. Lisda lumayan singkat. Mungkin karena bukan weekend juga sih. Dimulailah sesi konsultasi.. saya kasih buku record dari Bunda.. terus dia bilang, "Bagus dong kalau udah di Bunda. Kan mereka ada klinik bayi tabung juga." Setelah itu kembali periksa USG TransV. Dan dia menemukan itu endo..dan ternyata membesar menjadi 1.7cm dari sebelumny 1.3cm :( di akhir sesi, dia bilang agar melanjutkan pengobatan dengan dr. DIP aja..dia sendiri ga ngasih resep. Oke deh qaqa..

2. dr. Lisnur Saptowati , Sp.OG
Dokter Lisnur adalah dokter yang femes di antara circle pertemanan saya. Beliau juga merupakan dokter yang menangani kakak saya. Selain itu, saat masih gadis saya juga pernah berkonsultasi dgn beliau untuk periksa, kenapa pas mens nyeri parah (sekarang baru ketauan ya karena ada endometriosis -.- dulu mah pas di usg ga kliatan..tapi ya dulu kn emang bukan USG transvaginal. Yakali masih gadis pake usg transV)

Sempet drama nih sebelum konsultasi ke dr Lisnur..jadi kan saya pengen nyoba pake BPJS biar gratisan. Eh ternyata pas udah repot2 ngurus..udah jadi kartu..ternyata endometriosis nggak termasuk penyakit yang dicover bpjs. Heuu.. yasudlah..

Lanjut ke bagian pemeriksaan.. jadi kali ini saya pake usg biasa..apa sih namanya..ingetnya sih USG abdomen abdomen gitu..Trus dr. Lisnur bilang kalo perut saya penuh dengan cairan...err apa ya lupa. Yang jelas itu cairan makanin sel sel telur saya. Setelah, beliau meresepkan saya Azol. Yaitu obat hormon sintetis. Lumayan harganya 500rb. Sebenernya saya juga disuruh suntik Tapros dan Endrolin 3 kali. Tapi saya keburu harus balik jakarta ya udin.. dr Lisnur bilang injeksi ini worth of 1jt. :o


3. dr. Nelwati, Sp OG
dr. Nelwati berpraktek di 2 rumah sakit. Yang saya datangi yaitu Rumah bersalin Depok Jaya. Tempat lain yang menjadi tempat prakteknya yaitu RS Hermina Depok. Pertama datang ke dr. Nel (begitu beliau akrab dipanggil) beliau bilang kalau harus segera ke RS. Hermina. 

Memang sih waktu saya masuk, waktu menunjukkan pukul 12.. Fyi, beliau praktek di RB Depok Jaya setiap Kamis jam 9-12 siang dan Sabtu jam 18-23. Pendaftaran minimal h-1 via telpon. Maks pasien per hari 20.  Terus beliau juga bilang..idealnya di satu sesi praktek yang promil 2 aja. Biar ga kelamaan. Wahduh.. trus gimana dong :( 


Lobby RB Depok Jaya

Singkatnya..akhirnya saya diperiksa setelah terlebih dahulu nyeritain record pemeriksaan sebelumnya. Terus, seperti dr. Lisda, beliau mempertanyakan, kan RS Bunda udah yang paling bagus. Ngapain pake ke sini.. malah katanya Hermina ga ada program bayi tabung. Terus juga, beliau mengamini saran dr. Dip untuk melakukan laparoskopi. Tujuannya adalah untuk melihat secara rinci, sekaligus membersihkan "benda-benda" yang disinyalir menghambat kehamilan. Terus di akhir konsultasi saya nggak mau dikasih resep apa2. Bukan, bukan karena saya ngambek. Tapi karena pernyataan beliau juga, "Saya lihat Ibu orangnya bingungan, buktinya ganti2 dokter. Saya sarankan dokternya satu aja, terus dijalanin. "

Meeh...

Iya gue tau gue orangnya bingungan heuu.. tapi menurut gue, ga salah kan meminta second opinion? Cuma memang di sisi lain, too much information will kill you. Namanya juga usaha ya, sis? Tapi however, gue sampe sekarang belom berminat buat konsultasi dokter lagi sih.
Apakah semua ini jatohnya cuma mengulur ulur waktu sampe akhirnya gue laparoskopi beneran? Entahlah. Coba browsing biaya LO konon mihil bangat..



Ih terakhirnya lemes amat, Jeung. Semangat dong semangat!!